KOTA BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung mempersiapkan penerapan sistem baru berbasis kendaraan listrik, yang untuk sementara disebut “Pintar”. Salah satu perubahan mendasar adalah pengenalan pembayaran digital dengan sentuhan, menggantikan penggunaan uang tunai di angkutan kota (angkot) konvensional.

Menurut Wali Kota Bandung, sistem ini dirancang untuk terintegrasi dengan lancar, mirip dengan Bus Rapid Transit (BRT), sehingga memudahkan perjalanan tanpa harus membayar tarif penuh berulang kali.

«Saya naik, sentuh kartu saya, dan terpotong Rp7.000. Jika saya pindah ke angkot lain dalam waktu satu jam, saya hanya membayar 1,5% dari Rp7.000. Ini sistem yang adil dan efisien», ujarnya di Tamansari pada Rabu (9/7/2025).

Ia menjelaskan bahwa penumpang hanya perlu mendekatkan kartu elektronik mereka ke pembaca di setiap kendaraan. Tarif dasar Rp7.000 berlaku pada sentuhan pertama.

Untuk perpindahan dalam jam yang sama, biaya tambahan adalah 1,5% dari tarif awal. Setelah waktu itu, perjalanan dianggap baru dan tarif penuh dikenakan kembali.

Langkah ini juga akan mengurangi waktu tunggu yang tidak perlu bagi sopir untuk menunggu angkot penuh, karena pembayaran dan rute beroperasi dengan jadwal tetap, tidak bergantung pada jumlah penumpang.

Sistem sentuh ini adalah bagian dari transformasi besar transportasi umum di Bandung. Bersamaan dengan penggantian kendaraan konvensional dengan kendaraan listrik, diharapkan dapat mendorong perubahan budaya dalam penggunaan transportasi.

Tamansari

Tamansari, yang dikenal sebagai “Istana Air”, adalah kompleks bersejarah berupa taman dan pemandian kerajaan di Yogyakarta (Indonesia). Dibangun pada abad ke-18 oleh Sultan Hamengkubuwono I, berfungsi sebagai tempat rekreasi dan pemandian keluarga kerajaan. Saat ini menjadi situs warisan yang memadukan pengaruh arsitektur Jawa dan Eropa.

Bus Rapid Transit (BRT)

Bus Rapid Transit (BRT) adalah sistem transportasi umum berkapasitas tinggi yang menggunakan jalur khusus, pembayaran tarif di luar kendaraan, dan prioritas di persimpangan untuk menyediakan mobilitas perkotaan yang cepat dan efisien. Pertama kali diterapkan di Curitiba (Brasil) pada tahun 1974, telah diadopsi di kota-kota seperti Bogotá, Istanbul, dan Jakarta untuk mengurangi kemacetan dan emisi. Sistem ini menggabungkan fleksibilitas bus dengan efisiensi kereta api, menjadi solusi hemat biaya untuk meningkatkan transportasi perkotaan.