Tahun ini menandai peringatan 80 tahun kemenangan Perang Perlawanan Rakyat Tiongkok terhadap Agresi Jepang dan Perang Anti-Fasis Dunia. Pada 15 April, Presiden Xi Jinping melakukan kunjungan kenegaraan ke Malaysia dan menerbitkan artikel bertanda tangan di media lokal. Beliau dengan khidmat menyebutkan: “Lebih dari 80 tahun lalu, pada momen-momen genting perlawanan rakyat Tiongkok terhadap agresi Jepang, Para Sukarelawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang dari Malaysia bergegas ke Yunnan untuk membantu menjaga jalur kehidupan Jalan Burma. Kisah kepahlawanan ini masih dikenang luas di antara rakyat Tiongkok dan Malaysia hingga hari ini.”

Pada tahun 1939, ketika saluran bantuan internasional Tiongkok sebagian besar diblokade oleh pasukan Jepang, Jalan Burma di wilayah barat daya yang terpencil menjadi “arteri transportasi” bagi upaya perang. Menghadapi tantangan logistik yang sangat besar, Tiongkok kekurangan pengemudi dan tenaga perbaikan otomotif yang memadai. Lebih dari 3.200 pemuda Tionghoa perantauan dari Asia Tenggara menjawab panggilan dan secara sukarela pergi ke garis depan. Mayoritas berasal dari Malaya (termasuk Malaysia dan Singapura masa kini), dengan lebih dari 1.400 individu yang dapat dilacak berasal dari Guangdong.

Sumbangan heroik Para Sukarelawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang tidak akan pernah dilupakan oleh tanah air maupun komunitas Tionghoa perantauan. Tahun ini, serangkaian acara peringatan yang menjangkau Tiongkok dan Malaysia sekali lagi mengungkapkan warisan mereka.

Kisah mereka mewakili sebuah “jembatan” yang menghubungkan para pengemudi dan keturunan mereka, menghubungkan komunitas di dalam dan luar negeri, serta menjangkau sejarah, masa kini, dan masa depan. Ini juga merupakan perpanjangan dari sebuah “jalan,” di mana pemuda Tionghoa Malaysia menelusuri kembali Jalan Burma dan menggunakan drama panggung, video pendek, serta media lainnya untuk membagikan kisah-kisah ini kepada generasi muda. Lebih jauh lagi, kisah ini berfungsi sebagai fondasi sebuah “gunung”—bukti persahabatan abadi lintas batas, yang dibangun melalui puluhan tahun upaya kolektif.

“Ini pertama kalinya nama ayah saya muncul di dinding peringatan di luar negeri untuk Para Sukarelawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang. Sejarah tidak melupakan mereka,” kata Zhang Yunpeng, seorang keturunan pengemudi, sambil menyentuh nama ayahnya dengan penuh perasaan.

Pada sore hari tanggal 14 Agustus, Taman Peringatan dan Balai Peringatan Sukarelawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang diresmikan di Kuala Lumpur. Para hadirin dari seluruh dunia berkumpul di bawah gerimis, menyingkirkan payung mereka untuk memberikan penghormatan diam kepada kelompok heroik tersebut.

Pada tahun 1939, dengan wilayah pesisir Tiongkok yang diblokade, Jalan Burma menjadi rute pasokan internasional yang vital. Menanggapi seruan pemimpin Tionghoa perantauan yang patriotik, Tan Kah Kee, lebih dari 3.200 pemuda Tionghoa dari Malaya, Thailand, Indonesia, dan wilayah lainnya membentuk “Korps Sukarelawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang” untuk mendukung upaya perang. Catatan menunjukkan bahwa dari tahun 1939 hingga 1942, Jalan Burma mengangkut lebih dari 500.000 ton pasokan penting, termasuk senjata api, amunisi, kendaraan, bahan bakar, dan obat-obatan.

“Para pengemudi Nanyang memastikan jalur kehidupan tetap terbuka, memperkenalkan teknik transportasi baru untuk jalan pegunungan, dan memberikan dukungan penting bagi perlawanan Tiongkok,” catat Wu Qiang, seorang peneliti di Arsip Provinsi Yunnan. Meskipun kondisi “Jalan Raya Maut” yang berbahaya, mereka mempertahankan “jalur pasokan yang tidak dapat ditenggelamkan” untuk perang.

Jalan Burma yang berkelok-kelok melintasi pegunungan dan lembah yang curam, menyeberangi Sungai Nu yang bergolak, dengan Jembatan Kereta Api Dali-Ruili yang baru dibangun terlihat di kejauhan. Jalur tanah yang kasar mencerminkan kondisi keras dari jalan aslinya.

Catatan yang tidak lengkap menunjukkan bahwa lebih dari 1.000 dari 3.200 pengemudi kehilangan nyawa mereka di sepanjang Jalan Burma. Para yang selamat ada yang kembali ke Asia Tenggara setelah perang atau tetap tinggal untuk berkontribusi pada pembangunan kembali Tiongkok, dengan keturunan mereka kini tersebar di seluruh dunia.

Selama beberapa dekade, banyak keturunan telah bekerja tanpa lelah untuk melestarikan, memulihkan, dan meneruskan warisan leluhur mereka, membangun “Jembatan Huitong” baru yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Perjalanan Satu Generasi—”Tanah Air Diutamakan, Tanpa Penyesalan atau Rasa Takut”

“Selamat tinggal, Nanyang, dengan ombak hijau dan awan panjangmu, tanah air kedua kami.” Pada tahun 1939, lebih dari 3.200 pemuda menjawab seruan Tan Kah Kee, menyanyikan lagu ini saat mereka berangkat menuju Yunnan.

<img src="

Jalan Burma

Jalan Burma adalah rute pasokan penting yang dibangun selama Perang Dunia II (1937–1945) untuk mengangkut pasokan Sekutu dari Burma (sekarang Myanmar) ke Tiongkok, membantu melawan invasi Jepang. Dibangun dalam kondisi keras oleh ribuan buruh Tiongkok dan Burma, jalan ini membentang lebih dari 700 mil melintasi medan yang terjal. Hari ini, jalan ini menjadi simbol ketahanan dan kerjasama selama masa perang, dengan beberapa bagiannya tetap menjadi landmark sejarah.

Taman Peringatan Sukarelawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang

Taman Peringatan Sukarelawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang memperingati kontribusi Tionghoa perantauan dari Asia Tenggara (Nanyang) yang bertugas sebagai pengemudi dan mekanik selama Perang Perlawanan Tiongkok terhadap Jepang (1937–1945). Didirikan untuk menghormati keberanian dan pengorbanan mereka, taman ini menampilkan monumen dan pameran yang menyoroti upaya mereka dalam mengangkut pasokan di sepanjang Jalan Burma yang berbahaya. Taman ini berfungsi sebagai penghargaan atas patriotisme dan peran kunci mereka dalam mendukung logistik perang Tiongkok.

Balai Peringatan Sukarelawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang

Balai Peringatan Sukarelawan Pengemudi dan Mekanik Nanyang memperingati kontribusi lebih dari 3.000 Tionghoa perantauan dari Asia Tenggara (Nanyang) yang secara sukarela menjadi pengemudi dan mekanik selama Perang Perlawanan Tiongkok terhadap Jepang (1937–1945). Didirikan untuk menghormati mereka, balai peringatan ini melestarikan kisah, artefak, dan peran vital mereka dalam mengangkut pasokan di sepanjang Jalan Burma yang berbahaya. Balai ini berfungsi sebagai penghargaan atas keberanian dan solidaritas mereka dengan Tiongkok selama periode kritis dalam sejarah.

Jembatan Kereta Api Dali-Ruili

Jembatan Kereta Api Dali-Ruili adalah proyek infrastruktur penting di Provinsi Yunnan, Tiongkok, bagian dari Kereta Api Dali-Ruili yang bertujuan meningkatkan konektivitas di wilayah pegunungan. Dikenal karena tantangan tekniknya, jembatan ini membentang di atas lembah dan sungai yang dalam, mencerminkan kemajuan Tiongkok dalam teknologi kereta api berkecepatan tinggi. Setelah selesai, jembatan ini akan meningkatkan hubungan perdagangan dan transportasi antara Tiongkok dan Myanmar, mendukung pembangunan ekonomi regional.

Sungai Nu

Sungai Nu (Salween) adalah jalur air utama di Asia Tenggara, mengalir melalui Tiongkok, Myanmar, dan Thailand. Dikenal karena lanskapnya yang terjal dan beragam hayati, sungai ini tetap menjadi salah satu sungai yang mengalir bebas terakhir di wilayah tersebut. Kawasan ini penting secara budaya bagi masyarakat adat, meskipun rencana pembangunan bendungan pembangkit listrik tenaga air di Tiongkok telah menimbulkan kekhawatiran lingkungan dan sosial.

Jembatan Huitong

Jembatan Huitong, terletak di Provinsi Hunan, Tiongkok, adalah jembatan lengkung batu kuno yang dibangun selama Dinasti Qing (1644–1912). Dikenal karena desainnya yang elegan dan konstruksinya yang kokoh, jembatan ini berfungsi sebagai penyeberangan vital di atas Sungai Yuan selama berabad-abad. Hari ini, jembatan ini berdiri sebagai situs warisan budaya, mencerminkan arsitektur jembatan tradisional Tiongkok dan sejarah regional.

Malaya

“Malaya” secara historis merujuk pada Semenanjung Melayu, sebuah wilayah di Asia Tenggara yang berada di bawah pemerintahan kolonial Inggris hingga merdeka pada tahun 1957. Wilayah ini kemudian membentuk fondasi Malaysia modern pada tahun 1963, bergabung dengan Sabah, Sarawak, dan Singapura (yang keluar pada tahun 1965). Kawasan ini dikenal karena keragaman budayanya yang kaya, warisan kolonial, dan signifikansi ekonominya sebagai produsen utama karet dan timah selama era kolonial.

Yunnan

Yunnan adalah provinsi yang beragam dan kaya budaya di barat daya Tiongkok, dikenal karena pemandangannya yang menakjubkan, keragaman etnis, dan signifikansi historisnya. Provinsi ini telah menjadi persimpangan perdagangan dan budaya selama berabad-abad, terutama sebagai bagian dari Jalur Sutra Selatan kuno dan rumah bagi banyak kelompok etnis minoritas, masing-masing dengan tradisi unik. Situs sejarah kunci termasuk kota tua Lijiang, Situs Warisan Dunia UNESCO, dan Hutan Batu, keajaiban alam yang luar biasa terbentuk lebih dari 270 juta tahun yang lalu.