Menurut Menteri, kekuatan AI mungkin lebih besar dari energi nuklir, sehingga masalah yang ditimbulkan AI bisa lebih besar dari bom atom. AI dan persoalannya akan selalu ada dan tidak bisa dihilangkan; oleh karena itu, kita harus hidup berdampingan dan mengaturnya dengan bijak.

Penilaian tersebut disampaikan oleh Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam lokakarya ilmiah “Kekuatan Tak Terbatas dan Tantangan Tak Terduga Kecerdasan Buatan (AI) – Dampak Negatif dan Respons Kebijakan,” yang digelar pada pagi tanggal 15 September.

AI Menghadirkan Tantangan yang Belum Pernah Ada Sebelumnya

Dalam lokakarya tersebut, para pembicara menyoroti sifat ganda AI, memberikan evaluasi komprehensif tentang dampaknya terhadap ekonomi, pendidikan, kesehatan, budaya, pembangunan berkelanjutan, tata kelola, serta pertahanan dan keamanan nasional.

Menurut Menteri Keamanan Publik, dalam revolusi industri keempat, kecerdasan buatan (AI) dianggap sebagai salah satu teknologi kunci dan faktor yang dapat mengarah pada perubahan tatanan global di masa depan.

Dengan kemampuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, mengoptimalkan produksi, meningkatkan layanan kesehatan, berinovasi dalam pendidikan, dan meningkatkan kemampuan tata kelola sosial, AI membantu negara menghemat biaya, meningkatkan efisiensi, memperluas pengetahuan, serta menjadi sumber daya dan pendorong untuk menegaskan posisi suatu bangsa di era digital.

Di samping potensinya, AI juga menghadirkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk celah hukum, risiko etika, penyalahgunaan teknologi untuk kejahatan siber, perang informasi, pelanggaran privasi data, dan khususnya risiko yang berdampak pada pertahanan dan keamanan nasional.

Menteri: Masalah yang Ditimbulkan AI Bisa Lebih Besar dari Bom Atom - Gambar 2.

Sementara itu, Direktur Akademi Politik Nasional Ho Chi Minh menyatakan bahwa di samping potensinya yang sangat besar, AI menyimpan banyak risiko serius dan sulit diprediksi.

Di antara semua itu, yang paling mengkhawatirkan adalah potensi hilangnya kendali atas sistem AI yang dapat belajar dan beradaptasi sendiri, terutama ketika mereka berkembang melampaui pemahaman dan pengawasan manusia.

Menurutnya, AI telah dan akan terus menyebabkan dampak negatif di pasar tenaga kerja, karena banyak profesi tradisional tergantikan, sehingga meningkatkan risiko pengangguran, khususnya bagi pekerja tidak terampil atau yang non-digital.

Terutama jika data pelatihannya bias, AI akan mereproduksi dan memperkuat prasangka sosial, yang berujung pada keputusan yang miring dan tidak adil.

Selain itu, AI dapat dieksploitasi untuk aktivitas berbahaya seperti penipuan daring, penyebaran berita palsu, pemalsuan suara dan gambar (deepfake), yang menimbulkan kebingungan publik dan mempengaruhi keamanan dan ketertiban sosial; AI juga dapat digunakan untuk melancarkan serangan siber yang canggih untuk menyusup, merusak sistem informasi, infrastruktur kritis, atau mencuri data dan rahasia negara.

“Perlombaan pengembangan AI antar negara berisiko menciptakan ketidakseimbangan strategis dan meningkatkan ketegangan militer, terutama tanpa adanya kerangka hukum internasional untuk mengontrol penggunaan AI dalam pertahanan dan keamanan.

Oleh karena itu, AI adalah alat untuk meningkatkan kemampuan pertahanan dan keamanan, sekaligus sumber potensial risiko bagi perdamaian dan keamanan dunia jika tidak digunakan secara bertanggung jawab dan transparan,” ujarnya.

Menteri: Masalah yang Ditimbulkan AI Bisa Lebih Besar dari Bom Atom - Gambar 3.

Masalah AI Bisa Diselesaikan oleh AI Itu Sendiri

Dalam konferensi tersebut, Menteri Ilmu Pengetahuan dan Teknologi menyatakan bahwa Vietnam pertama kali menerbitkan strategi AI pada 2021. Namun, AI adalah bidang yang berubah sangat cepat, dan strategi nasional AI yang diperbarui serta Undang-Undang AI akan dirilis pada akhir tahun ini.

Menurut Menteri, ini bukan hanya kerangka hukum, tetapi juga deklarasi visi nasional: AI harus menjadi infrastruktur intelektual negara, melayani rakyat, pembangunan berkelanjutan, dan meningkatkan daya saing bangsa.

AI membuka peluang besar tetapi juga memunculkan banyak persoalan terkait etika, lapangan kerja, dan kepercayaan sosial. Oleh karena itu, Vietnam harus mengembangkan AI dengan cara yang cepat, aman, dan manusiawi.

AI adalah untuk manusia, bukan untuk menggantikan manusia melainkan melayaninya; AI adalah asisten bagi manusia. AI adalah alat yang kuat, tetapi manusia adalah pengambil keputusan; biarkan AI mendukung, bukan menggantikan pemikiran, nilai, dan tanggung jawab manusia.

Menteri menyatakan: “Kekuatan AI mungkin lebih besar dari energi nuklir, dan karenanya, masalahnya bisa lebih besar dari bom atom. Tetapi AI dan masalahnya bagaikan saudara kembar,”