RADARBANDUNG.ID, ROMA– (GSF) Muhammed Harkati dari Aljazair telah dibebaskan dari cengkeraman militer, tetapi lengannya masih sakit. Dia mengatakan merasakan sakit setelah dipukul berkali-kali selama interogasi setelah kapal yang ditumpanginya dicegat di dekat Siprus.
“Misi kami adalah misi kemanusiaan dan perdamaian. Namun, saat kami berada di perairan, kami diserang dan diculik. Setelah itu, kami ditahan di penjara,” katanya kepada Anadolu Agency. Hal serupa disampaikan oleh Bulal Kitay dari Turki, yang menggambarkan bagaimana dia dan semua relawan dipukuli sejak mereka ditahan.
“Kami semua dipukuli, baik perempuan maupun laki-laki,” katanya setelah tiba di Istanbul, Turki, pada Kamis malam (21 Mei) setelah dideportasi dari Ashdod, seperti dilaporkan Daily Sabah. Sebanyak 422 aktivis/relawan GSF dari 44 negara telah dibebaskan. Sebelumnya, pada Senin (18 Mei) dan Selasa (19 Mei), konvoi GSF yang terdiri dari 50 kapal dicegat dan dibajak oleh militer Israel saat dalam perjalanan menuju Jalur Gaza untuk memberikan bantuan kemanusiaan.
Mereka kemudian dibawa ke Ashdod, sebuah kota di sisi selatan Israel. Sebelum dibebaskan, seperti yang diceritakan Kitay, mereka terlebih dahulu dianiaya atau menjadi sasaran kekerasan, termasuk sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang juga diculik.
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) telah memastikan bahwa warga negara Indonesia yang dibebaskan akan tiba di tanah air besok (24 Mei) sore. Saat ini, mereka masih berada di Istanbul menjalani beberapa pemeriksaan.
“Menteri Luar Negeri (Sugiono) juga telah berbicara dengan sembilan warga negara Indonesia,” kata Duta Besar Indonesia untuk Turki, Achmad Rizal Purnama, saat dikonfirmasi dari Jakarta pada Kamis malam (21 Mei).
Menurutnya, sembilan warga negara Indonesia tersebut akan menjalani beberapa prosedur terlebih dahulu, termasuk memberikan kesaksian, pemeriksaan medis, dan pemeriksaan kesehatan oleh otoritas Turki. Kamp Konsentrasi Terapung Harkati mengatakan bahwa setelah tiba di Pelabuhan Ashdod, para aktivis dipindahkan ke sebuah penjara di Gurun Negev. Di sana, katanya, para aktivis diborgol dengan plastik dan logam.
“Selama interogasi, mereka mengikat kami dengan erat. Tentara yang memindahkan kami dari satu ruangan ke ruangan lain juga memukuli kami,” katanya.
Aktivis Mauritania, Muhammed Baba, juga mengklaim bahwa dia diserang oleh anjing penjaga sebelum dibawa ke penjara. “Mereka melepaskan anjing penjaga ke arah saya,” katanya. Menurut Baba, hal ini dilakukan ketika pihak berwenang melihat bahwa para tahanan tidak menunjukkan rasa takut. Di Roma, aktivis Italia Luca Poggi mengatakan kondisi kali ini jauh lebih buruk daripada pengalaman sebelumnya dalam misi serupa. “Terakhir kali kami dipermalukan, tapi pada dasarnya kami kembali tanpa cedera. Kali ini kami benar-benar kembali dengan patah tulang,” katanya.
Marco Orefice, juga seorang relawan GSF yang diculik, menggambarkan bagaimana kapal tempat mereka ditahan seperti kamp konsentrasi terapung. Sekitar 50 orang berdesakan di dalam satu kontainer sempit tanpa perlindungan dari hawa dingin. “Satu-satunya cara untuk tetap hangat adalah dengan berdesakan seperti sarden,” katanya.
Namun, di tengah semua cerita tentang kekerasan, sebagian besar aktivis mengatakan bahwa pengalaman mereka justru memperkuat solidaritas mereka dengan Palestina. Mereka percaya apa yang mereka alami hanyalah sebagian kecil dari kehidupan sehari-hari warga Gaza. Israel membantah semua tuduhan penganiayaan. “Klaim para aktivis itu palsu dan tidak berdasar,” kata juru bicara Dinas Penjara Israel, Zivan Freidin.
Dalam Kondisi Baik Sementara itu, dalam sebuah video yang diunggah Sugiono di akun Instagram pribadinya dan akun Kementerian Luar Negeri, Konsul Jenderal Indonesia di Istanbul Darianto Harsono terlihat menyambut warga negara Indonesia yang dibebaskan di bandara.
“Alhamdulillah, kita bersama dengan sembilan saudara kita yang tergabung dalam misi GSF, dalam kondisi sehat,” katanya. Namun, dia mengatakan, seperti aktivis lain yang diculik, warga negara Indonesia juga mengalami kekerasan. “Beberapa dari mereka mengalami kekerasan fisik, ditendang, dipukuli, dan disetrum,” jelasnya.