Umum bagi para pekerja Filipina di luar negeri (OFW) untuk bermimpi memiliki rumah dan tanah sendiri. Banyak dari mereka tumbuh dengan menyewa atau tinggal bersama kerabat, bahkan di pemukiman informal. Karena kemiskinan dan kurangnya kesempatan, mereka pergi bekerja ke luar negeri untuk mencari masa depan yang lebih baik.

Namun bagi sebagian orang, mimpinya bukan sekadar rumah sederhana. Ada OFW yang berinvestasi di apartemen, kondominium, atau tanah untuk menghasilkan pendapatan, sebuah langkah tidak hanya untuk masa kini, tetapi juga sebagai persiapan untuk kepulangan mereka ke Filipina.

Strategi untuk mewujudkan mimpi ini beragam: ada yang rajin menabung, ada yang mengambil banyak pekerjaan, dan ada pula yang memulai bisnis. Namun akarnya sama: pengorbanan. Contoh sukses adalah Marlyn Flores Castro, 45 tahun, mantan OFW dan kini pengusaha pemilik perusahaan kado balikbayan di Uni Emirat Arab (UEA), dengan cabang juga di Filipina.

Marlyn tumbuh di Pampanga bersama 11 saudaranya. Keluarganya menghadapi kesulitan ekonomi. Dia berbagi kenangan pahit: kehilangan rumah.

Pada tahun 90-an, mereka tinggal di sebuah rumah di tanah pribadi, yang bukan milik mereka. Suatu hari, pemiliknya datang dan memaksa mereka pergi. Mereka tinggal bersama kerabat beberapa kali, tetapi tidak pernah lama.

“Kami tinggal di rumah nenek. Tapi siapa yang bisa menampung 12 orang?” kata Marlyn, anak kelima di antara saudara-saudaranya. Suatu saat, mereka berdua belas tinggal berdesakan di sebuah rumah seluas 100 meter persegi yang dibeli hanya seharga ₱70,000.

Di situlah mimpinya dimulai: memiliki atap sendiri. “Kami mengalami ketiadaan rumah. Saya berjanji pada diri sendiri bahwa suatu hari nanti masing-masing akan memiliki rumahnya,” katanya.

Pada usia 14 tahun, Marlyn bekerja di sebuah restoran untuk membiayai studinya. Dia berjuang mendapatkan beasiswa dan akhirnya lulus di bidang Bisnis dan Keuangan.

Pada 31 Maret 2005, dia terbang ke Dubai dan bekerja sebagai sekretaris dan pengelola di sebuah perusahaan pengiriman. Gaji pertamanya adalah Dh1,000 (sekitar ₱15,000), dengan beberapa bonus.

Selama sembilan tahun, dia bekerja di bidang logistik. Dia juga memiliki pekerjaan sampingan sebagai agen perjalanan dan katering. Suatu kali dia melewati lima bulan tanpa gaji, tetapi dia bertahan.

“Saya bertahan karena keluarga saya di Filipina bergantung pada saya,” katanya. Seiring waktu, penghasilannya meningkat menjadi Dh9,000 per bulan.

Pada tahun 2008, saat masih bekerja, dia membeli sebidang tanah di Angeles City. Itu adalah investasi pertamanya. Dia melunasinya dalam sepuluh tahun dan membangun rumah tiga lantai pada tahun 2018.

Rumah itu mewujudkan mimpi pertamanya: atap untuk keluarganya.

Dengan pengalaman sembilan tahun di tiga perusahaan logistik, Marlyn mengembangkan keterampilan kewirausahaan. Pada tahun 2014, dia mengundurkan diri untuk mendirikan perusahaannya sendiri yang bergerak di bidang kado balikbayan bersama seorang mitra.

“Saya tidak menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak perlu. Saya selalu berinvestasi. Saya hidup sederhana,” katanya.

Mereka membuka cabang di Filipina dan memperluas operasi. Selain itu, ia mewaralabakan 15 gerai jaringan donat internasional di Pampanga.

Satu per satu, dia memberikan rumah dan tanah kepada saudara-saudaranya.

Pada tahun 2023, dia menjadi pemilik tunggal perusahaannya setelah mitranya pensiun.

Saat ini dia memiliki 400 karyawan: 140 di Dubai dan 260 di Filipina.

Marlyn tidak pernah melupakan akarnya, terutama sebagai pelajar yang bekerja. Karena itu dia menciptakan program beasiswanya sendiri.

“Kesuksesan adalah membantu orang lain untuk sukses,” katanya. “Salah satu mimpi terbesar saya adalah program ini, memberikan kembali kepada komunitas dan berbagi berkah dari Tuhan.”

Dua penerima beasiswanya telah lulus. Saat ini dia mendukung 15 orang di Filipina dan 8 di UEA, banyak di antaranya adalah anak-anak OFW.

Beberapa belajar kriminologi, agribisnis, teknik informatika, biologi, dan pendidikan menengah. Beberapa sekarang bekerja di perusahaannya.

Marlyn mewakili OFW yang tujuannya bukan sekadar kenyamanan pribadi. Di balik setiap kado balikbayan yang dikirim perusahaannya, ada pengorbanan, tekad, dan cinta.

Gadis kecil yang bermimpi memiliki atap kini memberikan rumah, pekerjaan, dan harapan kepada orang lain.

Dan di setiap langkah kesuksesannya, ia membawa

Pampanga

Pampanga adalah sebuah provinsi di wilayah Luzon Tengah di Filipina, yang dikenal karena sejarahnya yang kaya, budaya yang dinamis, dan warisan kulinernya. Provinsi ini merupakan pusat politik dan ekonomi penting selama penjajahan Spanyol, dengan ibukotanya, Bacolor, untuk sementara menjadi ibukota Filipina pada abad ke-18. Saat ini, Pampanga terkenal karena festival seperti Festival Lampion Raksasa dan sebagai “Ibukota Kuliner Filipina” berkat gastronomi kapampangan yang khas.

Uni Emirat Arab (UEA)

Uni Emirat Arab (UEA) adalah sebuah federasi dari tujuh emirat —Abu Dhabi, Dubai, Sharjah, Ajman, Umm Al-Quwain, Fujairah, dan Ras Al Khaimah— yang didirikan pada tahun 1971 setelah merdeka dari Britania Raya. Dikenal karena modernisasinya yang cepat, UEA memadukan warisan Badui dengan kota-kota futuristik seperti Dubai dan Abu Dhabi, rumah bagi ikon-ikon seperti Burj Khalifa dan Masjid Agung Sheikh Zayed. Secara historis menjadi pusat perdagangan dan penangkapan mutiara, ekonominya kini bergantung pada minyak, pariwisata, dan perdagangan global.

Angeles City

Angeles City, terletak di Pampanga, Filipina, dikenal karena kehidupan malamnya, sejarah, dan warisan budayanya. Didirikan pada tahun 1796, kota ini tumbuh sebagai pusat perdagangan dan kemudian menjadi terkenal karena distrik hiburannya, terutama selama kehadiran militer Amerika Serikat di Pangkalan Udara Clark yang terdekat. Saat ini kota ini memadukan atraksi modern dengan situs bersejarah seperti Paroki Santo Rosario dan Museum ning Angeles.

Dubai

Dubai adalah kota yang dinamis di UEA, terkenal karena arsitektur modernnya, perbelanjaan mewah, dan ekonominya yang berkembang pesat. Awalnya sebuah desa nelayan kecil, kota ini berubah menjadi pusat perdagangan utama pada abad ke-20 dan bertransformasi menjadi metropolis global setelah penemuan minyak pada tahun 60-an. Saat ini ia dikenal karena ikon-ikon seperti Burj Khalifa, Palm Jumeirah, dan keragaman budayanya, memadukan tradisi Emirat dengan inovasi futuristik.