Medan –
Grup musik asal Inggris, Honne, dijadwalkan akan tampil di Medan pada akhir bulan ini. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan menyatakan penolakan terhadap konser Honne dengan alasan mensosialisasikan nilai-nilai LGBT.
“MUI Medan menolak segala bentuk aktivitas publik, baik konser, pertunjukan, kampanye sosial, maupun konten digital, secara langsung maupun tidak langsung, yang membawa pesan dukungan terhadap perilaku LGBT,” ujar Ketua MUI Medan dalam sebuah pernyataan.
Ia menjelaskan bahwa majelis tidak menolak hiburan atau konser sebagai bentuk ekspresi. Namun, jika kegiatan tersebut diduga mensosialisasikan nilai-nilai LGBT, MUI berkewajiban menolak acara apa pun yang bertentangan dengan ajaran agama dan norma sosial.
“Ini bukan tentang individu atau kelompok. Ini tentang melindungi ruang publik kita agar tidak digunakan untuk mensosialisasikan nilai-nilai yang merusak moral dan tatanan sosial,” tegasnya.
MUI Medan mendesak semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan penyelenggara acara, untuk lebih selektif dalam memberikan izin kegiatan publik, khususnya yang melibatkan tokoh atau kelompok yang pernah menyatakan dukungan terhadap LGBT di berbagai platform. Hal ini untuk mencegah infiltrasi nilai-nilai yang bertentangan dengan agama dan norma sosial.
“Kita harus tetap waspada. Jangan beri ruang sedikit pun bagi infiltrasi nilai-nilai yang berlawanan dengan agama dan norma sosial. Generasi muda kita harus dilindungi dari normalisasi penyimpangan, dalam bentuk apa pun,” tegasnya.
MUI juga menegaskan bahwa penolakan ini tidak ditujukan secara pribadi kepada siapa pun, melainkan merupakan tanggung jawab moral dan sosial untuk membela nilai-nilai yang dianut masyarakat luas.
“Kami tidak dalam posisi untuk memusuhi siapa pun. Namun, kami memiliki kewajiban untuk menyatakan penolakan terhadap hal-hal yang merusak moral dan bertentangan dengan prinsip-prinsip masyarakat kami,” pungkasnya.