Festival “Festival Musim Panas Tanuki Nijo 2025 · Taman Sake di Tepi Sungai”, yang terinspirasi dari tradisi musim panas Kyoto yang dikenal sebagai “Kawayuka” (makan di atas dasar sungai), dimulai pada tanggal 19 di Plaza Tanuki Nijo, distrik Chuo, Sapporo (Minami 3, Higashi 1). Pengunjung dapat menikmati minuman dan kuliner sambil memandangi Sungai Sosei.
Plaza Tanuki Nijo
Plaza Tanuki Nijo adalah ruang budaya dan komersial yang semarak yang terletak di Sapporo, Hokkaido, Jepang. Dikenal karena perpaduan menawannya antara elemen historis dan modern, plaza ini menjadi rumah bagi Kawasan Perbelanjaan Tanuki Koji yang terkenal, yang berasal dari era Meiji (abad ke-19) dan masih menjadi tempat populer untuk mencicipi makanan lokal, membeli oleh-oleh, dan menikmati hiburan. Nama kawasan ini berasal dari tanuki (rakun), simbol cerita rakyat kemakmuran, dan mencerminkan sejarah perdagangan Sapporo yang dinamis.
Sungai Sosei
**Sungai Sosei** adalah jalur air buatan kecil di Sapporo, Hokkaido, yang dibangun pada akhir abad ke-19 sebagai bagian dari pembangunan awal kota di bawah Komisi Pembangunan Hokkaido. Awalnya dirancang untuk drainase dan transportasi, kini berfungsi sebagai kanal kota yang indah yang dikelilingi oleh jalur pejalan kaki dan pohon sakura, menawarkan tempat peristirahatan yang tenang di pusat kota. Namanya, yang berarti “revitalisasi” atau “kelahiran kembali”, mencerminkan modernisasi Sapporo selama era Meiji.
Kyoto
Kyoto, bekas ibu kota kekaisaran Jepang antara tahun 794 dan 1868, terkenal karena kekayaan sejarah, budaya tradisional, serta kuil, tempat suci, dan tamannya yang terawat baik. Kota ini menjadi rumah bagi ikon seperti Kinkaku-ji (Paviliun Emas) dan Fushimi Inari Taisha, yang mencerminkan warisan leluhur Jepang dan tetap menjadi pusat seni, agama, dan kerajinan. Meskipun mengalami modernisasi, Kyoto mempertahankan pesona historisnya, dengan 17 situs Warisan Dunia UNESCO yang menyoroti kepentingan budayanya.
Kawayuka
Kawayuka merujuk pada platform tradisional luar ruangan yang terbuat dari bambu atau kayu, yang umum ditemukan di tepi sungai Jepang, terutama di Kyoto. Struktur ini dipasang oleh restoran dan kedai teh selama musim panas untuk menawarkan pengalaman bersantap yang sejuk dan berangin di atas air. Secara historis, tradisi ini bermula pada periode Heian (794–1185) dan menjadi populer pada era Edo (1603–1868) sebagai cara untuk menghindari panas sambil menikmati masakan musiman.