DEPOK (20/05/2026) – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia menekankan pentingnya menjaga kesinambungan hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura. Saat menyampaikan pidato pembuka (keynote speech) pada forum internasional Ecosperity Week 2026, menteri tersebut menyatakan bahwa fondasi persahabatan kedua negara kini telah bertransformasi melampaui batas kerja sama ekonomi konvensional.

Di hadapan para diplomat, tokoh bisnis global, investor, dan pejabat tinggi internasional, menteri tersebut merenungkan bagaimana kepercayaan dan konektivitas antargenerasi telah menjadi aset kunci dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik di kawasan Asia.

Refleksi Dua Dekade dan Kenangan akan Jurong West

Pidato yang disampaikan menteri menggabungkan pendekatan diplomatik formal dengan sentuhan pribadi yang reflektif. Ia membuka presentasinya dengan mengenang masa mudanya saat tinggal di Singapura lebih dari dua dekade lalu sebagai seorang perwira militer muda.

  • Akar Akademis: Dua puluh tahun lalu, menteri menempuh pendidikan pascasarjana di Nanyang Technological University (NTU) bersama istrinya dan tinggal di area Jurong West.

  • Perspektif Pembangunan: Pengalaman masa lalu tersebut, terutama dalam mengamati disiplin dan tata kelola ruang Singapura, diakui telah memberikan banyak pelajaran fundamental mengenai visi pembangunan kewilayahan dan pelayanan publik.

“Tahun lalu, NTU menganugerahkan saya Penghargaan Alumni Nanyang Terkemuka. Saya memandang penghargaan itu bukan sebagai pencapaian pribadi, melainkan sebagai bentuk kehormatan atas eratnya ikatan persahabatan kemitraan Indonesia-Singapura yang berkembang melalui pendidikan,” ujar alumni NTU tersebut dalam pernyataan tertulis pada Rabu (20/05).

Diplomasi Personal dan Apresiasi atas Kenegarawanan

Kehangatan forum semakin diperkuat oleh interaksi karismatik antara menteri dan Ketua Temasek, Teo Chee Hean. Menteri secara khusus menyampaikan apresiasi atas peran strategis Teo, tidak hanya sebagai negarawan senior Singapura tetapi juga sebagai tokoh kunci yang secara konsisten memperkuat hubungan antara kedua negara tetangga ini.

Bagi menteri, hubungan yang kuat antar bangsa pada dasarnya diikat oleh komitmen para pemimpinnya, yang selalu hadir dan menjaga kepercayaan, bahkan di tengah dampak krisis global yang kompleks.

Kolaborasi Berkelanjutan untuk Ketahanan Asia

Lebih lanjut, menteri menekankan bahwa masa depan arsitektur Asia akan sangat bergantung pada kemampuan negara-negara di dalamnya untuk membina kerja sama yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Sinergi yang kuat antara Indonesia dan Singapura diharapkan dapat menjadi jangkar stabilitas di Asia Tenggara.

Selama kunjungan kerja internasional ke Singapura ini, menteri didampingi oleh pejabat fungsional dan struktural dari Kementerian Koordinator, termasuk Deputi Bidang Koordinasi Pembangunan Perumahan dan Prasarana Permukiman, serta Staf Khusus Menteri.

Nanyang Technological University (NTU)

Nanyang Technological University (NTU) di Singapura didirikan pada tahun 1991, meskipun akarnya dapat ditelusuri kembali ke Nanyang University yang didirikan pada tahun 1955. NTU telah berkembang menjadi universitas riset global terkemuka, yang dikenal dengan program teknik, bisnis, dan sainsnya yang kuat. Saat ini, NTU secara konsisten menempati peringkat teratas di antara universitas muda terbaik dunia dan memiliki kampus yang modern serta ramah lingkungan.

Jurong West

Jurong West adalah sebuah area perencanaan dan kota pemukiman di wilayah barat Singapura, yang awalnya dikembangkan pada tahun 1980-an sebagai bagian dari Kawasan Industri Jurong. Sejarahnya terkait erat dengan industrialisasi cepat Singapura, bertransformasi dari lahan pertanian rawa menjadi komunitas mandiri yang modern dengan perumahan, sekolah, dan taman. Saat ini, Jurong West adalah pusat pinggiran kota yang ramai, dikenal dengan populasi yang beragam dan landmark seperti Stadion Jurong West serta Kawasan Danau Jurong yang akan datang.

Asia Tenggara

Asia Tenggara adalah kawasan yang beragam secara budaya dan geografis, terdiri dari negara-negara seperti Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Filipina, yang dibentuk oleh berabad-abad perdagangan, migrasi, dan pengaruh kolonial. Secara historis, kawasan ini merupakan rumah bagi kerajaan-kerajaan kuat seperti Khmer, Sriwijaya, dan Majapahit, dan kemudian mengalami penjajahan Eropa, yang meninggalkan dampak abadi pada bahasa, agama, dan batas politiknya. Saat ini, kawasan ini dikenal dengan tradisinya yang dinamis, kuil-kuil yang menakjubkan, dan kota-kota yang dinamis, mencerminkan perpaduan kaya antara pengaruh pribumi dan asing.