Bandung –
Beberapa aktivis lingkungan menyatakan kekhawatiran mereka tentang proyek insinerator yang saat ini dilaksanakan oleh pemerintah Kota Bandung. Mereka percaya proyek ini dapat menciptakan masalah yang lebih besar di masa depan.
Kekhawatiran ini disampaikan dalam sebuah diskusi yang diadakan oleh Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI). Insinerator adalah alat pembakar sampah yang memproses limbah padat, cair, atau gas menggunakan suhu tinggi.
“Di Bandung, sayangnya, solusi yang dipilih untuk pengelolaan sampah adalah opsi ekstrem yaitu pembakaran. Masalahnya, ini akan menimbulkan masalah baru nantinya,” kata Direktur Eksekutif sebuah organisasi pelestarian bumi berkelanjutan di Bandung.
Proyek insinerator ini diprakarsai oleh pemerintah Provinsi Jawa Barat pada Mei 2025 untuk mengatasi masalah kelebihan kapasitas di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 117 miliar untuk 84 insinerator tambahan, dengan 43 unit di Kota Bandung, 25 unit di Kabupaten Bandung, 6 unit di Kota Cimahi, dan 10 unit di Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Di Kota Bandung, pemerintah daerah menargetkan pemasangan insinerator di 30 lokasi. Hingga awal Juli 2025, baru 7 unit yang beroperasi.
Sambil mengakui kebutuhan mendesak untuk mengatasi kelebihan kapasitas TPA Sarimukti, para kritikus berpendapat bahwa insinerator bukanlah solusi yang tepat untuk pengelolaan sampah.
Ada kekhawatiran bahwa proyek ini dapat menormalkan pembakaran sampah secara mandiri di kalangan warga, yang berpotensi menimbulkan masalah baru, termasuk masalah kesehatan di masa depan.
“Karena adanya insinerator, warga mungkin berhenti memilah sampah mereka. Ini mencerminkan pemikiran yang kacau dan tidak memiliki dasar ilmiah. Hal ini akan membawa kita pada masalah yang lebih besar dan bisa menjadi bom waktu,” mereka memperingatkan.
“Pendekatan saat ini kurang memiliki perencanaan yang tepat untuk menyelesaikan masalah sampah. Meskipun memang ada krisis TPA, tanggapannya justru menciptakan masalah baru, terutama polusi lingkungan. Pada akhirnya, warga Bandunglah yang akan menanggung akibatnya,” mereka menambahkan.
Para kritikus mencatat bahwa Bandung sudah memiliki program pengelolaan sampah yang berjalan bernama ‘Kang Pisman’ (Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan sampah). Namun, proyek insinerator berisiko membuat upaya ini menjadi sia-sia.
“Semua jadi terhambat. Menurut saya, masalah sampah hanya membutuhkan komitmen dan keberanian dari para pemimpin daerah. Jika opsi insinerator terus berlanjut, ini akan menormalkan pembakaran sampah di kalangan masyarakat,” tegas mereka.
Yang lain berpendapat bahwa proyek insinerator untuk pengelolaan sampah pada dasarnya salah arah, dan meragukan keramahan lingkungannya.
“Prinsip utamanya haruslah hak untuk hidup sehat, di lingkungan yang sehat, dan bekerja di lingkungan yang sehat. Ini harus menjadi pedoman semua solusi,” kata mereka.
“Kita punya masalah sampah dan mencari solusi, tetapi jika solusinya membuat Anda sakit, itu bukan solusi—itu menciptakan masalah baru. Teknologi yang diperkenalkan tidak memiliki validasi dan sertifikasi. Klaim tentang ramah lingkungan perlu dibuktikan,” mereka menambahkan.
Para kritikus memandang pemerintah daerah sedang mengalihkan tanggung jawab melalui proyek insinerator, yang dapat menimbulkan masalah kesehatan di masa depan.
“Pengangkutan sampah adalah kewajiban pelayanan dasar pemerintah. Membuat warga menanganinya sendiri adalah salah. Konsepnya cacat, terutama dengan meminta orang membakar sampah mereka,” jelas mereka.
Sambil mengakui kelebihan kapasitas TPA Sarimukti, para kritikus berpendapat bahwa proyek insinerator akan membebani warga Bandung dengan masalah baru.
Pemerintah seharusnya fokus pada mengubah kebiasaan pemilahan sampah rumah tangga. Ini membutuhkan waktu tetapi harus didukung oleh komitmen kebijakan yang serius.
“Jangan terus menyalahkan warga ketika fasilitasnya kurang. Sistem pendukung untuk membantu orang melakukan ini belum tersedia,” kata mereka.
“Solusinya adalah setiap orang belajar memilah sampah—ini harus menjadi budaya. Sistem pengumpulan sampah juga harus mendukung pemilahan untuk menghindari frustrasi. Mulailah dengan pemilahan, kemudian budayakan praktik tidak membakar—penguburan sementara lebih baik,” mereka menyimpulkan.