KOTA BANDUNG – Lonjakan sampah hingga 20 persen selama libur Lebaran membuat tumpukan harian di Kota Bandung tidak kunjung bersih secara signifikan. Wali Kota Bandung mengakui, meski rute dan jadwal pengangkutan telah kembali normal, produksi sampah baru dari masyarakat terus muncul setiap hari, menyebabkan tumpukan cepat terbentuk kembali.
Wali Kota menjelaskan, kondisi menumpuknya sampah telah terjadi di Bandung sejak periode H-1 hingga H+4 Lebaran 2026. Pada masa itu, volume sampah meningkat cukup tajam dibanding hari biasa, sehingga sistem pengangkutan yang beroperasi normal pun masih tidak mampu mengejar laju timbulan sampah baru dari berbagai wilayah kota.
Dalam kondisi normal, Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah per hari. Namun, pada periode libur Lebaran, jumlahnya melonjak menjadi sekitar 1.800 ton per hari. Peningkatan ini terjadi seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, mulai dari konsumsi rumah tangga, aktivitas mudik, hingga kegiatan ekonomi musiman.
Wali Kota lebih lanjut menerangkan, fenomena penumpukan cepat terjadi karena pola produksi sampah yang berulang dalam satu hari. Sampah yang diangkut pagi hari, seringkali sudah terisi kembali di titik pembuangan sementara pada sore harinya.
“Kondisi menumpuknya sampah ini membuat penanganan terasa tidak berkurang meski petugas terus bekerja setiap hari. Tumpukan yang baru muncul hampir setara dengan jumlah sampah yang sebelumnya telah diangkut,” kata Wali Kota.
Menurutnya, situasi ini semakin terasa karena kapasitas pengangkutan harian masih terbatas. Dari total peningkatan produksi sampah, sekitar 980 ton dapat diangkut setiap hari oleh armada yang tersedia.
“Artinya, masih ada sekitar 500 hingga 600 ton sampah yang harus ditangani melalui berbagai metode pengolahan lain. Sisa sampah inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab tumpukan di beberapa titik tidak sepenuhnya terselesaikan,” ujarnya.
Pemerintah Kota Bandung kini mempercepat langkah penanganan dengan memperkuat sistem pengolahan sampah internal kota. Salah satu fokusnya adalah meningkatkan kapasitas fasilitas pemilahan dengan petugas pemilah dan perluasan teknologi pengolahan.
Selain itu, pengembangan pengolahan juga menjadi bagian dari strategi jangka pendek untuk mengurangi beban timbunan sampah. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir.
“Di beberapa wilayah Ciwastra dan Gedebage, program pengolahan sampah organik diperkuat, sehingga sampah rumah tangga dapat diolah lebih dekat dengan sumbernya sebelum masuk ke sistem pengangkutan utama,” jelasnya.
Wali Kota juga mengungkap rencana meluncurkan program baru pada kuartal kedua 2026. Program tersebut mencakup pengembangan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) dan penambahan kapasitas pengolahan, sebagai bagian dari penguatan sistem pengelolaan sampah kota.
Di sisi lain, Wali Kota menyoroti keberadaan lokasi pembuangan sampah ilegal yang memperburuk kondisi di lapangan. Berdasarkan data sementara, terdapat sekitar 60 titik pembuangan sementara ilegal yang tersebar di berbagai wilayah kota.
“Patroli 24 jam dilakukan untuk mengidentifikasi, mengangkut, dan menutup lokasi pembuangan ilegal. Penyidikan sedang dilakukan terhadap pihak-pihak yang diduga bertanggung jawab atas aktivitas pembuangan sampah di lokasi ilegal,” kata Wali Kota.
Wali Kota menekankan, partisipasi masyarakat adalah kunci untuk mengatasi masalah sampah di Kota Bandung. Dia mengapresiasi warga yang melaporkan lokasi pembuangan ilegal dan mendorong masyarakat untuk mulai mengurangi produksi sampah dari rumah tangga masing-masing agar beban kota tidak terus bertambah.

SLEMAN – Jika seseorang kemudian berada di tengah kawasan persawahan di Sleman, Yogyakarta, itu bukan karena mereka mencari suasana pedesaan “slow living”. Bukan pula dalam konteks mencari “hidden gem”.
Tapi, semata karena tersesat akibat mengikuti arahan saat mencari rute menuju Gerbang Tol Purwomartani. Prambanan&ndash
Kota Bandung
Ciwastra
Untuk memberikan ringkasan yang akurat, bisakah Anda memeriksa kembali ejaannya atau memberikan konteks tambahan, seperti negara atau wilayah tempat lokasi tersebut berada?