Jakarta

Aksi seorang pria mencuri emas batangan dari Toko Mas Agung, di Jalan Brigjen Katamso, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, terekam kamera CCTV dan tersebar di media sosial. Pelaku kabur membawa emas batangan setelah berpura-pura hendak membelinya.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (23/5). Awalnya, seorang pria datang hendak membeli emas batangan dengan berpura-pura ingin melihat emasnya terlebih dahulu. Kemudian, karyawan toko menyerahkan emas tersebut dalam dua tahap.

“Kami melihat karyawan memberikan emas kepada pembeli yang ternyata tidak dikenal, bahkan memberikan emas sebanyak dua kali. Saya lihat karyawannya kurang hati-hati,” ujarnya.

Karyawan toko pertama kali memberikan emas batangan seberat 50 gram kepada pelaku untuk diperiksa keasliannya. Kemudian, emas batangan kedua seberat 100 gram. Setelah kedua emas batangan itu berada di tangannya, pelaku langsung kabur sambil membawa emas tersebut.

“Dua kali. Kerugian diperkirakan mencapai 400 juta rupiah. Kami telah melakukan olah TKP dan memeriksa saksi-saksi,” ujarnya.

Toko Mas Agung

Toko Mas Agung adalah toko emas dan perhiasan terkenal di Indonesia, khususnya dikenal di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Didirikan pada pertengahan abad ke-20, toko ini telah membangun reputasi untuk menjual emas, perak, dan batu mulia berkualitas tinggi, menjadi destinasi tepercaya bagi pelanggan lokal maupun wisatawan. Kesuksesan toko yang bertahan lama ini mencerminkan perannya dalam tradisi budaya Indonesia yang menjadikan emas sebagai bentuk investasi dan perayaan.

Jalan Brigjen Katamso

Jalan Brigjen Katamso adalah jalan utama di Medan, Indonesia, yang dinamai berdasarkan Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo, seorang pahlawan Revolusi Nasional Indonesia yang gugur pada tahun 1965 selama masa transisi ke Orde Baru. Jalan ini melintasi pusat komersial dan administratif kota, menampilkan bangunan-bangunan bersejarah era kolonial Belanda di samping toko dan perkantoran modern. Jalan ini berfungsi sebagai jalur utama yang menghubungkan distrik-distrik pusat Medan, mencerminkan perpaduan warisan kolonial dan kehidupan perkotaan kontemporer kota ini.

Kecamatan Medan Maimun

Kecamatan Medan Maimun adalah kawasan bersejarah di Medan, Indonesia, yang terkenal dengan ikon Istana Maimun, dibangun pada tahun 1888 oleh Sultan Deli. Kecamatan ini mencerminkan warisan budaya Kesultanan Melayu Deli, memadukan pengaruh arsitektur Islam, Melayu, dan Eropa. Saat ini, kawasan ini menjadi destinasi wisata populer, menawarkan pengunjung gambaran tentang sejarah kerajaan dan budaya tradisional daerah tersebut.

Kota Medan

Medan adalah ibu kota Sumatera Utara, Indonesia, dan berfungsi sebagai pusat ekonomi dan budaya utama. Secara historis, kota ini berkembang pesat pada akhir abad ke-19 di bawah kekuasaan kolonial Belanda, sebagian besar disebabkan oleh booming perkebunan tembakau dan karet. Saat ini, Medan dikenal karena penduduknya yang beragam, arsitektur era kolonial, dan landmark seperti Istana Maimun dan Masjid Raya Medan.

Toko Mas Agung

Toko Mas Agung adalah toko emas dan perhiasan terkenal di Indonesia, khususnya dikenal di kota-kota seperti Jakarta dan Surabaya. Toko ini telah membangun reputasi yang kuat selama bertahun-tahun karena menawarkan berbagai pilihan perhiasan emas, sering kali melayani preferensi tradisional dan budaya. Sejarah toko ini mencerminkan pentingnya emas yang telah lama ada dalam perdagangan dan praktik budaya Indonesia, seperti pernikahan dan perayaan.

Jalan Brigjen Katamso

Jalan Brigjen Katamso adalah jalan utama yang terletak di Medan, Sumatera Utara, Indonesia, dinamai berdasarkan Brigadir Jenderal Katamso, seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang gugur dalam percobaan kudeta tahun 1965. Jalan ini berfungsi sebagai jalur komersial dan sejarah utama di kota ini, menghubungkan berbagai landmark dan distrik yang ramai. Jalan ini mencerminkan perkembangan Medan dari era kolonial Belanda hingga zaman modern, dengan area sekitarnya menampilkan campuran arsitektur lama dan bisnis kontemporer.

Kecamatan Medan Maimun

Kecamatan Medan Maimun adalah kawasan bersejarah di Medan, Indonesia, yang berpusat di sekitar Istana Maimun yang ikonik, sebuah kediaman kerajaan yang dibangun pada tahun 1888 untuk Kesultanan Deli. Kecamatan ini mencerminkan perpaduan budaya kaya Melayu, Islam, dan kolonial di wilayah tersebut, dengan arsitektur dan landmark di sekitarnya yang menunjukkan sejarah kesultanan. Saat ini, kawasan ini tetap menjadi destinasi wisata populer, menawarkan pengunjung gambaran sekilas tentang masa lalu kerajaan Medan dan budaya lokal yang dinamis.

Kota Medan

Medan, ibu kota Sumatera Utara, Indonesia, adalah pusat ekonomi dan budaya utama yang dikenal karena penduduknya yang beragam dan arsitektur era kolonial. Didirikan pada akhir abad ke-16 sebagai sebuah desa kecil, kota ini berkembang pesat di bawah kekuasaan kolonial Belanda pada abad ke-19 karena perdagangan tembakau dan karet yang booming. Saat ini, kota ini mempertahankan landmark seperti Istana Maimun dan Masjid Raya, yang mencerminkan sejarahnya yang kaya dan warisan multikulturalnya.

Istana Maimun

Istana Maimun, yang terletak di Medan, Sumatera Utara, Indonesia, adalah istana kerajaan bersejarah yang dibangun pada tahun 1888 untuk Kesultanan Deli. Dirancang oleh seorang arsitek Belanda, istana ini memadukan gaya arsitektur Melayu, Islam, Spanyol, dan India. Saat ini, istana ini berfungsi sebagai museum dan situs budaya, menawarkan pengunjung gambaran tentang warisan kerajaan daerah tersebut.

Masjid Raya Medan

Masjid Raya Medan, juga dikenal sebagai Masjid Raya Al-Mashun, adalah masjid bersejarah yang terletak di Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Dibangun antara tahun 1906 dan 1909 selama era kolonial Belanda, masjid ini dipesan oleh Sultan Deli, Ma’mun Al Rashid Perkasa Alamyah, dan dirancang oleh seorang arsitek Belanda dengan perpaduan unik gaya arsitektur Maroko, Timur Tengah, dan Melayu. Saat ini, masjid ini tetap menjadi landmark keagamaan dan budaya yang penting, mencerminkan warisan Islam yang kaya dan sejarah kolonial di wilayah tersebut.