Suasana di Jalan Gatot Soebroto, Kota Bandung.

Bandung

Kota Bandung tetap menjadi destinasi akhir pekan favorit bagi wisatawan. Meskipun masa liburan sekolah telah berakhir, kota yang dijuluki “Kota Kembang” ini terus menarik banyak pengunjung. Hal ini terlihat dari kemacetan lalu lintas yang terpantau di beberapa ruas jalan di Bandung.

Pada Minggu sore (20/7/2025) sekitar pukul 13.30 WIB, lalu lintas padat terpantau di Jalan Soekarno Hatta menuju arah Buahbatu, berlanjut ke Jalan Ibrahim Adjie menuju Kiaracondong. Arus kendaraan menuju pusat kota tetap lancar namun padat.

Kemacetan lalu lintas juga terjadi di sekitar Jalan Gatot Subroto (Gatsu). Banyak kendaraan wisatawan yang keluar-masuk pusat kuliner di sepanjang jalan ini. Selain itu, banyak pengunjung yang keluar-masuk pusat perbelanjaan di kawasan tersebut, yang semakin memperlambat arus lalu lintas.

Beberapa tempat makan baru telah dibuka di sepanjang Jalan Gatsu, menambah daya tarik kawasan ini bagi wisatawan yang berkunjung ke Bandung. Salah satu pengunjung, Titin Endah (34) asal Sumedang, mengatakan, “Saya baru saja mengunjungi TSM lalu mampir ke sini untuk jajan. Saya membeli beberapa Bakso Malang.”

Titin mengaku tidak mengetahui banyaknya pilihan kuliner yang tersedia di sepanjang jalan tersebut. “Saya tidak tahu ada banyak pilihan, dari kedai kopi hingga makanan berat seperti sate,” ujarnya.

Lalu lintas padat juga terpantau di Jalan Asia Afrika, Jalan Braga, dan Jalan Naripan. Banyak wisatawan yang berjalan-jalan menikmati suasana pusat Kota Bandung, termasuk berfoto dengan bangunan bersejarah yang berjejer di sepanjang jalan tersebut.

Pemandangan serupa terlihat di sekitar Alun-alun Bandung dan Dalem Kaum. Pengunjung bersantai di rumput sintetis Alun-alun Bandung atau menunggu Bus Bandros (Bandung Tour on Bus).

Di Dalem Kaum, banyak wisatawan duduk di bangku taman atau keluar-masuk pusat perbelanjaan di sekitarnya.

Selain itu, keramaian terpantau di Jalan Oto Iskandardinata (Otista), terutama di sekitar Pasar Baru dan Lapangan Tegallega. Lalu lintas juga ramai di Jalan BKR, Jalan Peta, Jalan Lewi Panjang, dan Jalan Cibaduyut.

Di Jalan Cibaduyut, terlihat bus wisata dari luar kota yang masuk ke area parkir. Meskipun demikian, jumlah pengunjung di Cibaduyut tidak terlalu membludak, dan banyak toko pakaian serta sepatu yang tampak relatif sepi.

Salah satu wisatawan asal Cikarang, Intan Nurani (27), mengatakan bahwa ia datang ke Cibaduyut untuk membeli oleh-oleh. “Saya membeli beberapa sepatu dan sandal kulit lokal, serta peyeum dan tempe goreng—pokoknya untuk buah tangan,” ujarnya.

Intan menjelaskan bahwa ia lebih suka berbelanja di Cibaduyut karena lebih sepi dibandingkan Pasar Baru atau Dalem Kaum. “Di sini tidak terlalu ramai, dan dekat dengan jalan tol untuk perjalanan pulang,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Lalu Lintas Polrestabes Bandung, AKBP Wahyu Pristha Utama, mengimbau seluruh wisatawan yang berkunjung ke Bandung untuk mematuhi peraturan lalu lintas.

“Kami mengingatkan semua pengunjung yang menikmati liburan dan akhir pekan panjang di Bandung untuk tetap waspada dan menghormati pengguna jalan lainnya. Patuhi aturan lalu lintas, ikuti petunjuk petugas, dan taati segala rekayasa lalu lintas yang diberlakukan,” ujarnya melalui telepon.

“Jaga jarak aman, gunakan sabuk pengaman di mobil, dan kenakan helm saat mengendarai sepeda motor,” tambahnya.

Jalan Gatot Soebroto

Jalan Gatot Soebroto adalah jalan utama di Jakarta, Indonesia, yang dinamai berdasarkan Jenderal Gatot Soebroto, seorang pahlawan nasional dan tokoh militer terkemuka dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jalan ini dikenal dengan banyaknya gedung pemerintahan, kedutaan besar, dan pusat komersial yang signifikan, mencerminkan perannya sebagai pusat administrasi dan bisnis utama di ibu kota. Sejarahnya terkait dengan perkembangan Jakarta sebagai ibu kota, di mana jalan ini berkembang menjadi jalur vital yang menghubungkan bagian tengah dan selatan metropolis.

Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta adalah jalan utama di banyak kota di Indonesia, yang dinamai berdasarkan presiden pertama Indonesia, Sukarno, dan wakil presiden pertama, Mohammad Hatta, yang memainkan peran penting dalam kemerdekaan negara. Jalan ini memiliki signifikansi historis sebagai simbol kebanggaan nasional dan sering kali menjadi jalur penting bagi transportasi dan perdagangan. Di kota-kota seperti Bandung dan Jakarta, jalan ini berfungsi sebagai arteri penting yang menghubungkan berbagai kawasan perkotaan dan industri.

Buahbatu

Buahbatu adalah sebuah kecamatan yang terletak di Bandung, Jawa Barat, Indonesia, yang dikenal dengan perpaduan kawasan pemukiman, komersial, dan pendidikan. Secara historis, kawasan ini merupakan bagian dari perluasan Bandung seiring pertumbuhan kota, dan saat ini menjadi lokasi bagi beberapa universitas, pusat perbelanjaan, dan bisnis lokal. Nama “Buahbatu” diyakini berasal dari kata bahasa Sunda, meskipun makna historis pastinya masih belum jelas.

Jalan Ibrahim Adjie

Jalan Ibrahim Adjie adalah jalan terkenal di Bandung, Indonesia, yang dinamai berdasarkan Brigadir Jenderal Ibrahim Adjie, seorang tokoh militer terkemuka yang memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dan kemudian menjabat sebagai gubernur Jawa Barat (1960–1965). Jalan ini dikenal karena signifikansi historisnya dan lingkungan sekitarnya yang semarak, mencerminkan perpaduan warisan kolonial dan kehidupan urban modern Bandung. Saat ini, kawasan ini merupakan area yang ramai dengan toko, kafe, dan landmark budaya.

Kiaracondong

Kiaracondong adalah sebuah kecamatan yang terletak di Bandung, Jawa Barat, Indonesia, yang dikenal dengan kawasan komersial dan pemukimannya yang ramai. Secara historis, kawasan ini merupakan pusat transportasi penting karena stasiun kereta apinya, yang didirikan pada era kolonial Belanda. Saat ini, Kiaracondong tetap menjadi bagian Bandung yang semarak, memadukan signifikansi historis dengan kehidupan urban modern.

Jalan Asia Afrika

Jalan Asia Afrika adalah jalan bersejarah di Bandung, Indonesia, yang terkenal terkait dengan **Konferensi Asia-Afrika** tahun 1955, sebuah peristiwa penting dalam gerakan dekolonisasi dan lahirnya Gerakan Non-Blok. Jalan ini dipenuhi dengan bangunan bergaya kolonial, termasuk **Gedung Merdeka**, tempat konferensi tersebut diadakan. Saat ini, jalan ini berfungsi sebagai simbol solidaritas antara negara-negara Asia dan Afrika dan merupakan situs budaya dan wisata yang populer.

Jalan Braga

Jalan Braga adalah jalan bersejarah di Bandung, Indonesia, yang dikenal dengan arsitektur era kolonial dan suasana budayanya yang semarak. Didirikan pada awal abad ke-20 selama masa pemerintahan kolonial Belanda, jalan ini dulunya merupakan kawasan perbelanjaan dan hiburan bergengsi bagi para elit Eropa. Saat ini, jalan ini tetap menjadi destinasi populer berkat kafe, galeri seni, dan pesona nostalgianya.

Jalan Naripan

Jalan Naripan adalah jalan bersejarah dan semarak di Bandung, Indonesia, yang dikenal dengan arsitektur era kolonial dan suasananya yang ramai. Dulunya merupakan kawasan penting pada masa kolonial Belanda, jalan ini memiliki bangunan Art Deco yang terawat baik yang mencerminkan warisan Bandung sebagai “Paris van Java”. Saat ini, Jalan Naripan adalah destinasi populer untuk berbelanja, bersantap, dan eksplorasi budaya, memadukan pesona lama dengan energi modern.