Bandung

Ratusan demonstran mahasiswa mulai berdatangan ke Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Barat di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, pada Senin sore. Massa yang terdiri dari berbagai kelompok mahasiswa itu datang sambil membawa sejumlah tuntutan.

Pukul 14.25 waktu setempat, para demonstran tiba dengan berjalan kaki dari arah Masjid Pusdai. Mereka membawa banyak spanduk berisi tuntutan dan kritik, seperti “DPR (Dewan Pengkhianat Rakyat)”, “Indonesia dalam Darurat Demokrasi”, dan lainnya.

Sesampainya di depan Gedung DPRD Jawa Barat, massa langsung membakar ban bekas dan menggelar orasi. Dalam orasinya, mereka menyampaikan sejumlah keluhan, keprihatinan, dan tuntutan terkait kondisi yang sedang terjadi di tanah air.

Yang menarik, saat orasi berlangsung, salah seorang orator menyampaikan pesan damai kepada massa. Sang orator meminta massa untuk berunjuk rasa secara tertib, damai, dan tidak anarkis.

“Jangan anarkis, jangan sampai ada provokator,” kata orator tersebut, disambut sorak-sorai riuh massa mahasiswa.

Ia juga mengimbau massa untuk saling menjaga. Ia menyebut ada orang tua yang menunggu di rumah dan semua harus pulang dengan kondisi sehat.

“Jaga Kota Bandung, orang tua kalian masih menunggu di rumah,” ujarnya.

Sementara itu, aparat keamanan terlihat berjaga di sekitar lokasi aksi. Gerbang Gedung DPRD Jawa Barat ditutup, tertutup oleh spanduk putih besar yang menampilkan tuntutan dan beberapa foto pejabat.

Arus lalu lintas dialihkan; kendaraan yang hendak melintas di depan Gedung DPRD Jawa Barat dialihkan ke Jalan Cilamaya.

Gedung DPRD Jawa Barat

Gedung DPRD Jawa Barat adalah kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk provinsi Jawa Barat, Indonesia. Gedung ini berfungsi sebagai pusat kegiatan legislatif dan pemerintahan provinsi, yang mewakili proses demokrasi di tingkat daerah. Meski detail sejarah spesifiknya terbatas dalam catatan publik, gedung ini beroperasi sebagai lembaga pemerintahan modern di ibu kota provinsi, Bandung.

Jalan Diponegoro

Jalan Diponegoro adalah jalan utama di Bandung, Indonesia, yang dinamai dari Pangeran Diponegoro, pahlawan nasional yang memimpin Perang Jawa (1825-1830) melawan pemerintahan kolonial Belanda. Saat ini, jalan ini dikenal sebagai pusat aktivitas yang menampung beberapa gedung pemerintahan penting di Kota Bandung.

Masjid Pusdai

Masjid Pusdai (Masjid Persatuan Umat Islam Indonesia) adalah masjid terbesar di Jawa Barat, Indonesia, yang dibangun antara tahun 1997 dan 2003. Masjid ini berfungsi sebagai pusat utama kegiatan dan pendidikan Islam di wilayah tersebut, mencerminkan identitas keagamaan yang kuat. Arsitekturnya yang megah, dengan kubah besar dan menara yang menjulang, menjadikannya landmark penting di Bandung.

Jalan Cilamaya

Jalan Cilamaya adalah jalan utama di Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Jalan ini dikenal sebagai jalur alternatif yang menghubungkan beberapa kawasan penting. Jalan ini berperan sebagai penghubung lalu lintas yang vital, terutama saat ada pengalihan arus dari jalan-jalan protokol utama di pusat kota.