Jakarta –
Puluhan santri sebuah pondok pesantren di Depok, Jawa Barat, dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Brimob usai mengalami muntah dan diare. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Depok, Mary Liziawati, menyatakan para santri tersebut mengalami keracunan makanan di pondok pesantren.
“Diduga keracunan makanan, tapi ini bukan MBG. Berasal dari dapur pondok yang memang rutin menyiapkan makanan untuk santri,” kata Mary.
Mary menyebutkan, dinasnya masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab keracunan tersebut. Saat ini, Dinkes Depok masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
“Dinkes sedang melakukan penyelidikan. Sampel makanan sudah tidak ada, jadi kami ambil sampel muntahan dan air. Masih menunggu hasil lab. Semua santri yang mengeluh sudah ditangani,” ujarnya.
Sebelumnya, puluhan santri sebuah pondok pesantren di Depok dilarikan ke RS Bhayangkara Brimob setelah mengalami muntah dan diare. Beberapa di antaranya membutuhkan perawatan intensif.
“Pada 1 September 2025, RS Bhayangkara Brimob mendapat informasi dan menerima sejumlah santri Pondok Pesantren Baitul Quran, dengan gejala yang mirip. Keluhannya antara lain pusing, lemas, mual, muntah, dan buang air besar sangat sering,” jelas Kepala RS Bhayangkara Brimob.
Dia melaporkan, pada Senin, 1 September, sebanyak 57 santri ditangani di RS Bhayangkara Brimob. Dari jumlah itu, 31 orang memerlukan rawat inap.
“Seluruh 57 santri yang datang langsung ditangani tim medis rumah sakit. Setelah triase dan penanganan awal, diputuskan 31 orang di antaranya memerlukan perawatan lanjutan secara rawat inap, termasuk pemberian cairan dan penanganan dari spesialis anak,” paparnya.
Sebanyak 26 orang lainnya sudah dipulangkan. Secara total, hingga saat ini sudah 72 santri yang ditangani di RS Brimob.
“Sisanya 26 orang sudah pulang dan akan dapat rawat jalan. Per 3 September, total ada 72 santri yang sudah mendapat penanganan di RS Brimob,” tambahnya.
Dia menyebutkan, dari 72 orang tersebut, 42 santri memerlukan perawatan lanjutan karena gejala dehidrasi atau kekurangan cairan. Hingga hari ini, 10 santri telah menyelesaikan pengobatannya.