Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, meninjau banjir di Kompleks Pondok Maharta, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangsel, Selasa 8 Juli 2025.
Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, dan Konstruksi (DSDABMBK) Tangsel menjelaskan bahwa banjir di kawasan perumahan Pondok Maharta bukan disebabkan oleh hujan, melainkan oleh jembatan yang sangat rendah.
Menurut pejabat tersebut, jembatan yang terletak di dekat Pasar Maharta menghambat aliran Sungai Angke, menyebabkan air meluap ke jalan raya. Akibatnya, tinggi air mencapai lebih dari 1 meter.
“Sebenarnya, kami telah membangun dan meninggikan tanggul sungai, jadi jika sungai tidak meluap, tidak akan ada banjir. Masalahnya adalah jembatan rendah Pasar Maharta. Kami berencana membongkarnya, tetapi masyarakat menolak karena ketidaknyamanan yang akan ditimbulkan. Namun, jembatan ini menjadi salah satu penyebab banjir baru-baru ini,” ujar pejabat tersebut.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa jika Sungai Angke tidak meluap, banjir di Kompleks Maharta hanya akan sedalam sekitar 40 cm. “Banjir baru-baru ini disebabkan oleh luapan sungai akibat jembatan rendah,” tegasnya.
Pemerintah Kota Tangsel berencana membangun waduk di lahan seluas 5.000 meter persegi untuk mengatasi banjir di Maharta.
“Solusinya adalah membangun waduk untuk mencegah banjir. Namun, waduk tersebut tidak dirancang untuk menampung luapan sungai—kapasitasnya tidak mencukupi. Sebaliknya, kami harus mengelola aliran air,” jelasnya.
Untuk mencegah air membanjiri lingkungan, dinas tersebut akan memasang pompa tambahan guna mengendalikan luapan.
“Saat ini, ada 8 stasiun pompa. Tahun ini kami akan menambah satu lagi, sehingga total menjadi 9, untuk memastikan air tidak membanjiri kawasan. Pompa tambahan akan membantu mengendalikan ketinggian air di dalam lingkungan,” tambahnya.
Pejabat tersebut juga mencatat bahwa kedekatan kawasan dengan Kota Tangerang mempersulit penanganan banjir, karena diperlukan koordinasi antarwilayah.
“Tangerang juga harus mengambil langkah, seperti mengeruk sedimen di Sungai Angke. Karena air mengalir antardaerah, kami harus mengakui masalah seperti penyempitan saluran dan sedimentasi. Diperlukan pendekatan yang komprehensif,” pungkasnya.
Kompleks Pondok Maharta
**Kompleks Pondok Maharta** adalah situs budaya dan bersejarah di Indonesia, yang terkait dengan arsitektur tradisional Jawa dan warisan spiritual. Kemungkinan berfungsi sebagai *pondok pesantren* (sekolah Islam) atau tempat pertemuan komunal, mencerminkan pengaruh Islam dan pribumi di kawasan tersebut. Meskipun detail sejarah dapat bervariasi, kompleks ini mewakili perpaduan kaya antara pendidikan agama dan tradisi budaya Indonesia.
Kecamatan Pondok Aren
Kecamatan Pondok Aren adalah kawasan pinggiran kota yang terletak di Tangerang Selatan, Banten, Indonesia. Secara historis, daerah ini merupakan bagian dari wilayah Tangerang yang lebih luas, yang dikenal karena perpaduan pembangunan perkotaan dan komunitas tradisional. Saat ini, kawasan ini berfungsi sebagai pusat permukiman dan komersial, dengan infrastruktur yang terus berkembang, namun tetap mempertahankan pengaruh budaya dari masyarakat Sunda dan Betawi.
Jembatan Pasar Maharta
**Jembatan Pasar Maharta** adalah jembatan bersejarah yang terletak di **Pagar Alam, Sumatera Selatan, Indonesia**. Dibangun pada era kolonial Belanda, jembatan ini berfungsi sebagai penghubung vital untuk perdagangan dan konektivitas di kawasan tersebut. Saat ini, jembatan ini menjadi tengara budaya yang mencerminkan warisan arsitektur dan kolonial daerah tersebut.
Sungai Angke
Sungai Angke adalah jalur air bersejarah di Jakarta, Indonesia, yang awalnya digunakan untuk transportasi dan irigasi selama era kolonial Belanda. Namanya, yang berarti “Sungai Merah”, berasal dari pembantaian etnis Tionghoa pada tahun 1740, yang mewarnai airnya menjadi merah. Saat ini, sungai ini menghadapi masalah polusi dan tantangan perkotaan, tetapi tetap menjadi bagian penting dari lanskap budaya dan sejarah Jakarta.
Kota Tangerang
Kota Tangerang, yang terletak di provinsi Banten, Indonesia, adalah kawasan perkotaan di dekat Jakarta, yang dikenal karena pertumbuhan industri dan keragaman budayanya. Secara historis, kota ini merupakan pos perdagangan penting selama era kolonial dan menjadi rumah bagi Museum Warisan Benteng, yang menampilkan warisan Tionghoa-Indonesia. Saat ini, Tangerang merupakan pusat ekonomi utama, melestarikan tradisi seperti festival tahunan Peh Cun.