Pasca bencana banjir di Aceh Tamiang, khususnya di Dusun Lubuk Sidup, Kecamatan Sekarak, kawasan tersebut menjadi gambaran kerusakan paling parah.

Dari lebih dari 170 rumah, hanya tersisa empat rumah dan satu masjid. Hal ini disampaikan oleh Tim Lapangan Laznas AQL Peduli.

Secara geografis, jarak Dusun Lubuk Sidup ke ibu kota Aceh Tamiang sekitar 10 km. Kondisi kawasan mengalami kerusakan ekstrem, meliputi rumah, tempat ibadah, dan fasilitas jalan umum.

Sementara itu, banyak warga terdampak bencana masih tidur di tenda-tenda yang didirikan di atas tanah mereka sendiri.

Merespons kondisi ini, disampaikan bahwa Laznas AQL Peduli mendistribusikan bantuan logistik ke Dusun Lubuk Sidup sebagai bagian dari upaya dukungan bagi warga terdampak. Bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan pakaian dan paket makanan bergizi seperti kurma.

“Penyaluran bantuan ini didasarkan pada hasil asesmen lapangan yang menunjukkan tingkat kerusakan ekstrem di kawasan tersebut,” ujar pihak lembaga.

Lebih lanjut disampaikan, dusun ini termasuk yang paling parah terdampak. Bayangkan, dari lebih dari 170 rumah, hanya empat rumah dan satu masjid yang tersisa. Sisanya rusak berat atau bahkan rata dengan tanah. Itulah mengapa bantuan pakaian dan makanan menjadi prioritas kami saat ini.

Ditegaskan bahwa menyalurkan bantuan ke daerah terpencil menjadi fokus utama lembaga dalam menanggapi bencana.

“Kami berupaya terus hadir dan mendukung masyarakat terdampak hingga kondisi pulih bertahap. Tidak hanya di pusat daerah, tetapi juga di dusun-dusun terpencil dengan akses sulit,” ujarnya.

Bantuan logistik diserahkan kepada warga melalui Arma, istri Datuk (Kepala Dusun) Lubuk Sidup, untuk dibagikan kepada yang membutuhkan. Dengan mata berkaca-kaca, ia mengucapkan terima kasih atas kepedulian para donatur di tengah situasi mereka yang kehilangan harta benda.

“Terima kasih banyak atas bantuan pakaian dan makanan ini. Kami tidak bisa membalas kebaikan ini kecuali dengan doa. Semoga Bapak/Ibu dan semua pihak yang berkontribusi selalu diberikan kesehatan,” kata Ibu Arma dengan haru.

Pada kesempatan terpisah, disampaikan bahwa penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari komitmen Laznas AQL Peduli yang hingga hari ini masih mengoperasikan posko bantuan di Kuala Simpang, Aceh Tamiang.

Posko ini terus mendukung masyarakat terdampak bencana, terutama di daerah dengan tingkat kerusakan tinggi, agar warga dapat beraktivitas kembali secara bertahap pada masa pemulihan pasca banjir.

Dusun Lubuk Sidup

Dusun Lubuk Sidup adalah sebuah desa tradisional yang terletak di provinsi Riau, Indonesia, dikenal dengan rumah panggung Melayu yang terpelihara baik dan warisan budayanya. Secara historis, dusun ini berperan sebagai komunitas penting bagi masyarakat Melayu setempat, menjaga adat istiadat leluhur dan gaya arsitektur turun-temurun. Kini, dusun ini menawarkan gambaran kehidupan desa tepian sungai yang tradisional dan berfungsi sebagai situs pelestarian budaya.

Aceh Tamiang

Aceh Tamiang adalah sebuah kabupaten di bagian timur provinsi Aceh, Indonesia, yang secara historis signifikan sebagai lokasi awal ekspansi kerajaan Hindu-Buddha Sriwijaya di wilayah tersebut. Namanya berasal dari kerajaan “Tamiang” bersejarah, yang merupakan sebuah entitas politik Melayu terkenal yang disebut dalam catatan Jawa abad ke-14. Kini, daerah ini dikenal dengan sumber daya minyak dan gas alamnya, serta warisan budayanya sebagai bagian dari identitas pesisir Melayu Aceh.

Kecamatan Sekarak

Kecamatan Sekarak adalah sebuah kecamatan yang terletak di dalam Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah, Indonesia. Secara historis, kawasan ini merupakan bagian dari Kasunanan Surakarta yang lebih luas, dan perkembangannya terkait erat dengan pertumbuhan kota sebagai pusat budaya dan politik Jawa. Kini, daerah ini terutama merupakan kawasan permukiman dan administratif dalam lanskap urban modern Solo.

Masjid

Masjid adalah tempat ibadah umat Muslim, berfungsi sebagai pusat shalat, komunitas, dan pembelajaran. Masjid pertama didirikan oleh Nabi Muhammad pada abad ke-7 di Madinah, setelah hijrahnya dari Mekah. Selama berabad-abad, arsitektur masjid telah berkembang, mencerminkan keberagaman budaya Islam sambil mempertahankan elemen inti seperti ruang shalat dan mihrab (ceruk yang menunjukkan arah kiblat ke Mekah).

Kuala Simpang

Kuala Simpang adalah sebuah kota di Kabupaten Aceh Tamiang, Indonesia, terletak di pertemuan Sungai Tamiang dan Sungai Simpang Kiri. Secara historis, kota ini merupakan bagian dari Kesultanan Peureulak dan kemudian Kesultanan Aceh, berperan sebagai pelabuhan sungai penting untuk perdagangan. Kini, kota ini berfungsi terutama sebagai pusat administratif dan komersial lokal untuk wilayah pertanian di sekitarnya.