Tebing Tinggi.
Wali Kota Tebing Tinggi mengingatkan seluruh pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Tebing Tinggi untuk tidak mempersulit investor yang ingin menanamkan modal dan berkontribusi pada pembangunan daerah.

Dia menekankan, kemudahan pelayanan bagi investor sangat penting untuk mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

“Jangan sampai Tebing Tinggi menjadi kota mati. Mari kita dukung investor agar mereka mau berinvestasi untuk peningkatan PAD dan penciptaan lapangan kerja,” ujarnya.

Sejak dilantik sebagai wali kota, dia menyatakan terus berupaya meningkatkan pembangunan dengan menerapkan efisiensi anggaran.

Salah satu caranya dengan mengalihkan anggaran untuk perjalanan dinas organisasi perangkat daerah (OPD) dan pengadaan smart board ke sektor pembangunan yang lebih prioritas.

“Awalnya kami memang bingung karena keterbatasan anggaran. Tapi kami cari solusi dengan menggeser pos pengeluaran yang bisa ditunda agar pembangunan tetap jalan,” jelasnya.

Dia menegaskan, dalam tahun pertama kepemimpinannya, pembangunan fisik di Kota Tebing Tinggi sudah harus terlihat.

Menurutnya, pembangunan adalah indikator penting keberhasilan suatu daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dia juga membuka ruang seluas-luasnya bagi pers untuk memberikan kritik dan masukan terhadap jalannya pemerintahan, asalkan disampaikan secara berimbang, berdasar data, dan tidak bersifat pribadi.

“Saya sangat senang dikritik, tapi kritiknya harus membangun, bukan menjatuhkan, apalagi dilakukan secara brutal. Media adalah kontrol sosial, silakan beri saran untuk kemajuan kota ini,” katanya.

Dia juga meminta Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) tetap terbuka dalam menerima kritik dan aspirasi masyarakat, serta menyampaikan informasi yang akurat kepada publik.

“Tolong sampaikan yang benar kepada masyarakat, bukan informasi yang menyesatkan. Mari bersama kita jaga agar Kota Tebing Tinggi bisa maju dan berkembang,” tutupnya.

Tebing Tinggi

Tebing Tinggi adalah kota di Sumatera Utara, Indonesia, yang namanya berarti “High Cliff.” Secara historis, kota ini berkembang sebagai pusat perdagangan dan transportasi penting, terutama untuk wilayah perkebunan di sekitarnya, setelah didirikan secara formal sebagai wilayah administratif pada awal abad ke-20 di bawah pengaruh kolonial Belanda. Kini, kota ini dikenal sebagai kota komersial yang ramai dan gerbang menuju wilayah lain di Sumatera.