Jakarta –
Jakarta World Folk Festival (JWFF) 2025 telah resmi berakhir. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno berencana akan terus menyelenggarakan acara serupa setiap tahun.
“Sebenarnya saya tidak ingin menutup acara ini. Potensinya belum maksimal—belum. Versi lengkapnya baru akan hadir di tahun 2027, saat kita mengundang 82 negara ke Indonesia, agar Indonesia, atau Jakarta, bisa menjadi kota dunia,” ujar Rano Karno dalam acara penutupan JWFF 2025 di Taman Senayan, Jakarta Pusat.
Rano menilai acara ini sukses. Dia berharap pada peringatan 500 tahun Indonesia di 2027, budaya dari seluruh dunia bisa tampil dan memeriahkan JWFF.
“Selamat datang di Jakarta. Semoga kunjungan ini berkesan, dan saya harap tahun depan kalian bisa datang lagi—dan tentunya di 2027, saat Jakarta berusia 500 tahun, kami akan menghadirkan dunia ke Jakarta,” kata Rano.
Rano mengakui masih ada kekurangan dalam penyelenggaraan. Timnya akan mengevaluasi dan memperbaiki untuk penyelenggaraan tahun depan.
“Tentu edisi pertama ini belum sempurna, tapi kami akan segera merevisinya agar acara ini bisa menjadi jauh lebih baik dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Acara penutupan JWFF 2025 dilakukan bersama oleh Rano Karno, Utusan Khusus Presiden untuk Pariwisata Zita Anjani, Presiden International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts (CIOFF) Indonesia Said Rachmat, dan Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo.
Acara ditutup dengan pertunjukan kolaboratif Rampak Gendang. Kemeriahan dilanjutkan dengan penampilan budaya dari delegasi Bulgaria, Rusia, India, Korea Selatan, Jepang, dan tentunya Indonesia.
Jakarta World Folk Festival (JWFF) 2025
Jakarta World Folk Festival (JWFF) 2025 adalah acara budaya internasional yang merayakan musik, tarian, dan seni tradisional dari seluruh dunia. Diselenggarakan di Jakarta, Indonesia, festival ini bertujuan mempromosikan pertukaran budaya global dan melestarikan warisan folk. Edisi 2025 melanjutkan misi menyatukan beragam penampil dan penonton, memperkuat persatuan melalui tradisi artistik bersama.
Taman Senayan
Taman Senayan, terletak di Jakarta, Indonesia, adalah taman kota populer yang dikenal dengan fasilitas olahraga dan ruang terbuka hijaunya. Awalnya dikembangkan tahun 1960-an sebagai bagian dari Kompleks Olahraga Senayan untuk Asian Games 1962, kini menjadi pusat rekreasi bagi warga dan pengunjung. Taman ini memiliki jalur joging, area bermain, dan lapangan terbuka untuk acara, memadukan fasilitas modern dengan makna sejarah sebagai warisan olahraga Indonesia.
Indonesia
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari lebih dari 17.000 pulau, dan terkenal dengan keragaman budaya, tradisi yang hidup, serta bentang alam yang menakjubkan. Secara historis, Indonesia merupakan pusat kerajaan Hindu-Buddha kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, sebelum penyebaran Islam pada abad ke-13–16 dan kemudian kolonisasi Belanda. Kini, Indonesia adalah negara multikultural dengan lebih dari 300 kelompok etnis, terkenal dengan situs seperti Candi Borobudur, pantai-pantai Bali, dan Taman Nasional Komodo.
Jakarta
Jakarta, ibu kota Indonesia, adalah metropolis ramai dengan sejarah kaya yang bermula dari abad ke-4 sebagai kota pelabuhan Hindu. Kota ini kemudian menjadi pusat perdagangan utama di bawah pemerintahan kolonial Belanda pada abad ke-17, dengan nama Batavia. Kini, Jakarta adalah pusat budaya dan ekonomi yang dinamis, memadukan pencakar langit modern dengan landmark bersejarah seperti Kota Tua dan Monumen Nasional (Monas).
Jakarta Pusat
Jakarta Pusat adalah jantung politik dan ekonomi ibu kota Indonesia, tempat berdirinya gedung-gedung pemerintahan utama, monumen, dan distrik bisnis. Didirikan pada masa kolonial Belanda sebagai pusat administrasi Batavia, wilayah ini kemudian menjadi titik fokus pergerakan kemerdekaan Indonesia. Kini, Jakarta Pusat menampilkan landmark seperti Monumen Nasional (Monas) dan Istana Merdeka, memadukan warisan kolonial dengan pembangunan modern.
International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts (CIOFF)
International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts (CIOFF) adalah LSM yang berafiliasi dengan UNESCO, didirikan tahun 1970 untuk mempromosikan budaya tradisional dan seni folk di seluruh dunia. CIOFF menyelenggarakan festival, lokakarya, dan program pelestarian warisan, mendorong pertukaran antarbudaya. Diakui oleh UNESCO pada 2005, CIOFF berperan penting dalam melindungi warisan budaya takbenda.
Cilegon
Cilegon adalah kota industri di Provinsi Banten, Indonesia, dikenal dengan peran pentingnya dalam produksi baja nasional, terutama melalui perusahaan BUMN Krakatau Steel. Secara historis, kawasan ini merupakan bagian dari Kesultanan Banten sebelum berkembang menjadi pusat industri utama pada akhir abad ke-20. Kini, Cilegon berfungsi sebagai pusat ekonomi sekaligus menyediakan akses ke objek wisata budaya dan alam terdekat, seperti Keraton Surosowan dan Taman Nasional Ujung Kulon.
Rampak Gendang
Rampak Gendang adalah pertunjukan musik tradisional Indonesia dari Jawa Barat, menampilkan tabuhan drum (kendang) yang disinkronkan oleh sekelompok musisi. Berasal dari budaya Sunda, kesenian ini memadukan perkusi ritmis dengan gerakan dinamis, sering ditampilkan di festival dan acara budaya. Bentuk seni ini menonjolkan harmoni komunitas dan warisan musik kaya masyarakat Sunda.