Bekasi –
Polisi mengungkapkan bahwa perampokan di Bekasi direncanakan oleh sopir korban. Tersangka utama, diidentifikasi sebagai NM alias Ngadi (50), mengaku melakukan kejahatan tersebut karena dendam.
“Tersangka, Ngadi (NM), adalah sopir suami korban,” ujar Kapolsek Tarumajaya.
Ngadi mengakui bahwa ia merencanakan perampokan karena gajinya tidak dibayar.
“Ia juga kesal karena sudah beberapa kali menyetir suami korban tanpa mendapat bayaran,” jelasnya.
Ngadi merencanakan perampokan dengan cermat. Dua hari sebelumnya, pada Sabtu (12/7), ia mengunjungi rumah korban untuk melakukan pengintaian setelah mengetahui suami korban sedang di luar kota.
“Ia mengintai lokasi dan bertemu korban dengan dalih kunjungan biasa,” paparnya.
Korban Diancam dan Dibungkam
Pada Senin (14/7) sekitar pukul 23.30, Ngadi melaksanakan perampokan bersama seorang komplotan yang diidentifikasi sebagai SH.
“Para tersangka NM dan SH masuk melalui jendela kamar tidur belakang. Untuk menyembunyikan identitasnya, NM menggunakan syal milik korban dan membawa pisau dapur yang diambil di tempat kejadian,” kata Kapolres Metro Bekasi.
Salah satu tersangka, NM, menekankan pisau ke leher korban, sementara SH menutup mata dan mulut korban dengan lakban.
“NM mengancam korban dengan berkata: ‘Jangan berteriak. Kalau berteriak, lehermu akan kupotong.’ Sementara itu, SH melumpuhkannya dengan lakban,” ceritanya.
Para perampok mencuri dua sepeda motor—Honda Vario 125 dan Yamaha N-MAX—beserta satu dus ponsel Infinix, lalu melarikan diri.
Keesokan harinya, NM dan SH membawa barang curian ke Semper, Jakarta Utara, untuk ditawarkan kepada tersangka lain, MN. Ia kemudian mengarahkan mereka ke rumah tersangka S di Rorotan, di mana barang-barang tersebut ditemukan kembali, senilai 4,5 juta rupiah.