Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) memilih untuk tidak banyak berbicara mengenai gaji dan tunjangan yang diterima para anggota dewan.
Ketua DPRD KBB, Muhammad Mahdi, menyatakan bahwa tunjangan yang diterima anggota dewan di kabupaten itu tergantung pada respons masing-masing anggota.
“Kalau beda, itu tergantung individunya; ada yang masih merasa kurang,” ujarnya.
Dia menambahkan, tunjangan yang diterima anggota DPRD KBB tidak setinggi yang diterima anggota DPR RI. Baginya, mengungkapkan jumlah pastinya tidak etis untuk disampaikan ke publik.
“Tergantung, tapi angkanya sesuai harga pasar rumah di kabupaten ini. Pasti tidak seperti di DPR RI. Saya tidak nyaman membahas angka. Itu tidak etis dan berbahaya jika tersebar,” katanya.
Sementara itu, pengamat politik dan pemerintahan dari Unjani Cimahi, Arlan Siddha, mengatakan bahwa sikap diam anggota dewan saat ditanya soal besaran tunjangan mencerminkan kekhawatiran mereka akan reaksi publik.
“Anggota dewan sekarang cenderung hati-hati dalam membuat pernyataan karena khawatir bisa memicu situasi yang tidak menguntungkan,” kata Arlan saat dihubungi Selasa (2/9/2025).
Dia menambahkan, idealnya semua anggaran yang bersumber dari pajak masyarakat yang diterima anggota legislatif tetap harus diungkapkan ke publik secara transparan.
“Masyarakat harus tahu semuanya, mulai dari kinerja, anggaran, dan sebagainya. Ini benar-benar harus transparan,” ujarnya.
Dia menyatakan, keterbukaan adalah bagian dari akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan. Anggaran yang bersumber dari pajak masyarakat perlu diketahui rakyat, termasuk gaji dan tunjangan. Karena itu adalah hak publik.
“Seperti kata Prabowo, sudah saatnya anggota dewan membuka ruang diskusi dengan publik untuk isu-isu penting,” katanya.
Dia menekankan, anggota DPRD harus sadar bahwa mereka adalah wakil rakyat dan bertanggung jawab menjelaskan kepada publik apa hak-hak mereka.
“Transparan, elegan. Harus ada ruang diskusi dengan publik. Kalau tidak mau mengungkapkan langsung, bisa lewat dialog,” ujarnya.

Persib Bandung mengambil langkah penting di akhir jendela transfer dengan mendatangkan empat pemain baru.
Pelatih menjelaskan, perekrutan ini adalah hasil dari strategi menunggu hingga harga pemain menjadi lebih realistis.
Menurut pelatih, sejak sebulan sebelumnya, Persib sebenarnya sudah mengincar pemain-pemain tersebut.
Namun, saat itu harga yang diminta masih terlalu tinggi. “Kami menginginkan mereka sejak lama, tapi harga awalnya sangat mahal. Klub tidak mau membayar segitu,” kata pelatih.
Saat jendela transfer mendekati penutupan, situasi mulai berubah. Penawaran kembali dilakukan, dan kali ini para pemain tersebut belum menemukan klub baru.
Momen itu dimanfaatkan Persib untuk mendatangkan amunisi tambahan.
Pelatih membandingkan perekrutan ini dengan perdagangan di pasar saham atau aset digital.
“Di sepak bola, ini seperti pasar. Saat harga tinggi, jangan beli. Tapi saat harga turun, itulah waktu terbaik untuk membeli. Sama seperti bitcoin,” ujarnya.
Keempat pemain baru yang berhasil direkrut Persib antara lain Federico Barba, bek berpengalaman yang pernah bermain di Serie A Italia, serta dua gelandang naturalisasi asal Belanda, Thom Haye dan Eliano Reijnders, yang telah merasakan persaingan di liga-liga top Eropa. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkuat tim.
Meski tiba di menit-menit terakhir jendela transfer, pelatih menekankan bahwa tim tidak khawatir dengan proses penyesuaian.
Dia yakin para pemain baru memiliki kualitas dan pengalaman yang cukup untuk cepat beradaptasi dengan Persib.