Bandung –
Sejumlah peristiwa mewarnai pemberitaan di Jawa Barat hari ini. Mulai dari viralnya Plt Direktur Perumda Tirtawening Kota Bandung yang minta CCTV di ruang direksi dicabut, hingga penjelasan dokter soal kondisi balita perempuan bernama Raya dari Kabupaten Sukabumi yang meninggal setelah tubuhnya dipenuhi cacing.
Berikut rangkuman Today in West Java:
Viral Plt Direktur Perumda Tirtawening Marah-marah Minta CCTV Dicabut
Dunia media sosial TikTok dihebohkan dengan sebuah rekaman audio dugaan Plt Direktur Perumda Tirtawening Kota Bandung yang terdengar sedang marah kepada bawahannya. Penyebabnya karena ia meminta pemasangan CCTV di ruang direksi perusahaan umum daerah pengelola air itu untuk dicabut.
Dalam rekaman audio yang beredar, ia awalnya terdengar memberikan nasihat kepada bawahannya. Ia sendiri menjabat Asisten Daerah Bidang Administrasi Umum dan ditunjuk Wali Kota Bandung pada 17 Juni 2025 untuk menjabat Plt Direktur Perumda Tirtawening.
Pada momen itu, ia mengungkapkan dirinya telah menjadi PNS dengan beberapa jabatan seperti kepala desa, camat, kepala dinas, hingga Plt Sekretaris Daerah Kota Bandung. Ia kemudian menasihati bawahannya bahwa dirinya tak pernah membangkang perintah dari pimpinannya.
Lalu, suaranya terdengar menantang seorang pegawai perempuan untuk menjelaskan tugasnya di Perumda Tirtawening. Perempuan itu kemudian menjelaskan pekerjaannya adalah mendukung semua sistem terkait teknologi informasi, kelancaran administrasi, hingga bisnis perusahaan.
Tak lama setelah mendapat penjelasan itu, ia terdengar mulai meninggikan suara. Penyebabnya terjadi karena ia tak menginginkan CCTV terpasang di ruang direksi Perumda Tirtawening karena merasa kinerjanya terus diawasi.
“Memang harus diawasi di dalam? Sudah saya perintahkan berkali-kali, tolong CCTV di dalam dicabut,” ujarnya dalam audio tersebut.
Pegawai perempuan itu kemudian menjawab lagi bahwa dirinya belum mendapat perintah apa pun untuk pencabutan CCTV tersebut. Selanjutnya, ia terdengar semakin marah lalu menantang seorang pegawai bernama Heri.
Suara pejabat bernama Heri itu kemudian menjawab bahwa dirinya telah berkoordinasi dengan senior manager terkait CCTV tersebut. CCTV di ruangan itu disebut sudah dinonaktifkan, hanya perangkat fisiknya yang belum dicabut karena masih menunggu arahan dari pejabat lebih tinggi.
Ia justru semakin geram mendengar jawaban ini. Sebab, menurutnya dalam rekaman itu, perintahnya harus dilaksanakan tanpa harus melalui birokrasi berbelit ke berbagai pihak.
“Kenapa harus ke direktur? Sekarang saya mau mencabut, harus saya surati dia, apakah itu prosedur yang waras? Harus saya surati dia, coba saya kalau waras, dia di bawah saya. Coba pikir, mekanisme prosedurnya seperti apa,” katanya.
“Harus diverifikasi ke saya, saya mau dicabut. Baru dicabut kemarin, pasti bocor. Setiap saya ada meeting di ruangan itu, ada yang dengar-dengar dan ada yang tahu di luar. Ada kan, ada yang tahu. Itu pelanggaran, pelanggaran berat, saya anggap pelanggaran berat. Tolong diberikan punishment,” tambahnya.
Di tengah itu, terdengar lagi suara perempuan yang menyatakan pemasangan CCTV dilakukan sesuai ISO 270001, standar internasional yang menetapkan persyaratan untuk sistem manajemen keamanan informasi. Lebih lanjut, perempuan itu menyatakan jika CCTV dicabut, perusahaan tidak bisa mendapatkan sertifikasi ISO tersebut.
Responsnya ternyata tak terduga. Dalam rekaman audio, ia menyatakan tidak membutuhkan sertifikasi ISO 270001 dan meminta CCTV di ruang direksi segera dicabut.
“Ya saya tidak butuh, kalau pimpinan tidak butuh, ya tidak butuh… Sertifikasi ISO tidak dibutuhkan. Tolong, jangan ada CCTV lagi di dalam sini, semuanya bocor, tolong diberikan pelajaran dan diberikan punishment, itu pelanggaran terberat,” jelasnya.
Wali Kota Bandung akhirnya angkat bicara soal isu ini. Ia memastikan telah menerima informasi tersebut dan perkara itu telah diselesaikan di internal jajaran Perumda Tirtawening.
“Sudah selesai, itu sudah lama.