Selain korban meninggal, banyak lainnya pingsan selama acara berlangsung. Korban jiwa teridentifikasi sebagai VA (8), warga Desa Sukamentri, Kecamatan Garut Kota; Dewi Jubaedah (61); dan Bripka Cecep Saeful Bahri (39).

Ibu dari VA menyatakan bahwa ia tidak mengetahui keberadaan putrinya saat insiden terjadi.

“Saya sedang berjualan makanan dan tidak tahu anak saya sedang antre. Dia biasanya bermain dengan anak-anak penjual lain di sana. Orangnya terlalu banyak, dan usianya baru 8 tahun,” ujar Mela pada hari Jumat.

Mela menjelaskan bahwa putrinya kabur saat menunggu dalam antrean dan bermain dengan anak-anak lain di lokasi.

“Sudah dingin dan bengkak; dia sudah meninggal saat kami temukan,” tambahnya.

Neulis, seorang penjual yang menjadi saksi di Alun-Alun Garut, menggambarkan bagaimana kerumunan yang padat membuat situasi tidak terkendali meskipun ada petugas keamanan. Ia membantu mengevakuasi anak-anak yang terjebak di dekat area depan Kimia Farma.

“Banyak yang pingsan. Saya membantu menyelamatkan anak-anak yang terjebak di zona yang sangat padat di dekat Kimia Farma. Pintunya terbuka dan tertutup sedikit—mungkin anak itu terseret saat pintu terbuka,” jelasnya.

Neulis menyatakan bahwa kondisi VA adalah yang paling parah di antara para korban.

“Saya lewat di satu sisi, tetapi adik saya berlari membantu anak dari ibu ini, yang kondisinya lebih buruk. Saat kami periksa, dia sudah meninggal,” kata Neulis.

Menurut laporan, kerumunan mulai berkumpul sejak pukul 08.00 pagi untuk mengantre pembagian 5.000 porsi makanan sebagai bagian dari perayaan pernikahan. Informasi tentang makanan gratis tersebut tersebar di media sosial, termasuk TikTok, menarik ribuan pengunjung.

Perayaan pernikahan Maula Akbar, putra Dedi Mulyadi, dan Luthfianisa, putri Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Karyoto, berakhir kacau. Insiden terjadi selama hiburan dan pembagian makanan gratis di Alun-Alun Garut dan Gedung Pendopo Kabupaten Garut, mengakibatkan tiga korban jiwa.

Dalam sebuah pernyataan, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyampaikan belasungkawa dan berjanji memberikan santunan sebesar Rp150 juta kepada setiap keluarga korban untuk biaya pemakaman dan dukungan pendidikan.

“Dengan penuh hormat, kami serahkan Rp150 juta sebagai santunan kepada setiap keluarga. Ini adalah bentuk empati dari kedua mempelai. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas insiden ini dan mengambil alih seluruh tanggung jawab,” kata Dedi.

Alun-Alun Garut

Alun-Alun Garut, yang terletak di pusat Kota Garut, Jawa Barat, Indonesia, adalah ruang publik bersejarah yang telah menjadi titik kumpul utama sejak zaman kolonial Belanda. Tempat ini dikelilingi oleh ikon-ikon seperti Alun-Alun Garut (plaza utama) dan Masjid Agung Garut yang ikonik, mencerminkan warisan budaya dan religius kota. Hingga kini, tempat ini tetap menjadi pusat yang ramai untuk acara komunitas, pasar, dan kegiatan rekreasi.

Kimia Farma

Kimia Farma adalah perusahaan farmasi bersejarah Indonesia, didirikan pada tahun 1817 pada masa kolonial Belanda sebagai sebuah apotek kecil di Batavia (kini Jakarta). Kemudian berkembang menjadi perusahaan milik negara dan menjadi pemain kunci dalam industri kesehatan Indonesia, memproduksi obat-obatan dan perlengkapan medis. Saat ini, Kimia Farma merupakan salah satu perusahaan farmasi terbesar di negara ini, mengoperasikan rumah sakit, klinik, dan apotek di seluruh Indonesia.

Gedung Pendopo Kabupaten Garut

Gedung Pendopo Kabupaten Garut, yang terletak di Garut, Jawa Barat, Indonesia, berfungsi sebagai pusat administrasi pemerintah daerah. Dibangun pada masa kolonial Belanda, gedung ini mencerminkan pengaruh arsitektur kolonial dan tetap menjadi landmark sejarah dan politik yang penting di wilayah tersebut. Kini, gedung ini melambangkan warisan budaya Garut sekaligus berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan layanan publik.