Samosir. Polres Samosir menggelar Patroli Presisi untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), dari Sabtu hingga Minggu dini hari, yang berfokus di pintu masuk darat Kabupaten Samosir, khususnya di Jembatan Tano Ponggol dan Simpang Empat Jalan Gereja Pangururan.

Patroli ini dipimpin oleh Kasat Shabara Polres Samosir, AKP Nandi Butarbutar, dengan melibatkan personel dari Unit Lantas, Shabara, Intelkam, Reskrim, Satnarkoba, dan Propam Polres Samosir.

AKP Nandi Butarbutar menekankan bahwa patroli dilakukan secara dialogis untuk membangun kepercayaan masyarakat.

“Hal ini juga bertujuan untuk mencegah kejahatan jalanan seperti perampokan, geng motor, balap liar, pencurian, dan pencurian kendaraan,” ujarnya.

Kasat Shabara menjelaskan bahwa patroli menyasar titik-titik rawan, termasuk area keramaian dan lokasi yang sering dikunjungi. “Hasilnya, petugas menemukan beberapa pengendara motor yang menggunakan knalpot modifikasi,” kata Nandi.

Dia juga menyebutkan bahwa meski ditemukan warga yang menggunakan knalpot modifikasi, tidak ada senjata tajam, narkoba, minuman keras, aktivitas balap liar, atau geng motor yang terdeteksi selama patroli.

“Pengendara yang menggunakan knalpot modifikasi diberikan peringatan,” tambah Nandi.

AKP Nandi Butarbutar mengimbau masyarakat untuk aktif melaporkan setiap potensi gangguan keamanan.

“Jika melihat aktivitas mencurigakan atau kejahatan, segera hubungi Polres Samosir di 110. Kami siap 24 jam,” jelasnya.

Jembatan Tano Ponggol

**Jembatan Tano Ponggol** adalah jembatan kayu bersejarah yang terletak di Sumatera Utara, Indonesia, yang secara tradisional digunakan oleh masyarakat Batak untuk menghubungkan desa-desa yang terpisah oleh Sungai Pangururan. Jembatan ini memiliki makna budaya sebagai simbol persatuan dan kerjasama dalam komunitas. Meskipun fungsinya telah digantikan oleh jembatan modern, situs warisan ini tetap mencerminkan kerajinan tangan dan tradisi lokal.

Simpang Empat Jalan Gereja Pangururan

Simpang Empat Jalan Gereja di Pangururan adalah landmark penting di kota Pangururan, Pulau Samosir, Sumatera Utara, Indonesia. Tempat ini memiliki nilai sejarah karena terletak dekat gereja Kristen tertua di daerah tersebut, yang mencerminkan pengaruh misionaris kolonial Belanda yang memperkenalkan agama Kristen kepada masyarakat Batak pada abad ke-19. Saat ini, lokasi ini berfungsi sebagai titik pusat untuk pertemuan lokal dan kegiatan keagamaan.