Pada tanggal 5, diumumkan bahwa biaya untuk studi wisata, sekolah hutan, dan kegiatan lainnya di sekolah dasar dan menengah negeri akan digratiskan mulai tahun fiskal 2025. Tidak ada batasan penghasilan, menjadikannya yang pertama kali di antara 23 distrik khusus yang mencakup semua siswa. Ini merupakan langkah maju dalam mengurangi beban biaya pendidikan bagi keluarga yang membesarkan anak.

Gratis studi wisata akan berlaku untuk semua siswa kelas tiga sekolah menengah negeri, sekitar 2.900 anak. Biasanya, perjalanan ini berlangsung tiga hari dua malam, dengan tujuan seperti Kyoto, Nara, dan Nagasaki. Perkiraan biaya per siswa sekitar ¥80.000, dan distrik ini telah mengalokasikan sekitar ¥232 juta dalam anggaran awal untuk tahun fiskal 2025.

Kegiatan lain yang akan digratiskan meliputi: studi wisata pantai tiga hari dua malam untuk siswa kelas lima (sebelumnya sekitar ¥3.000 per siswa), studi wisata hutan untuk siswa kelas enam (sekitar ¥2.800), dan kelas bergerak untuk siswa kelas dua sekolah menengah (sekitar ¥8.800). Total anggaran untuk ini diperkirakan ¥49 juta.

Alasan utama di balik kebijakan ini adalah meningkatnya biaya studi wisata.

Sebelumnya, orang tua harus membayar sekitar ¥60.000–70.000 per anak untuk studi wisata. Namun, karena inflasi dan kenaikan biaya, pengeluaran untuk akomodasi dan transportasi telah naik. Dengan anggaran yang ada, menjadi sulit untuk mempertahankan kualitas perjalanan yang sama, sehingga kenaikan biaya tidak terhindarkan. Untuk memastikan semua siswa dapat berpartisipasi terlepas dari kondisi keuangan keluarganya, diputuskan untuk menanggung seluruh biaya dengan dana publik.

Pada hari yang sama, distrik ini juga mengumumkan bahwa mulai tahun fiskal depan, beberapa biaya untuk bahan pelengkap—seperti tes, buku kerja, dan bahan pembelajaran eksperimen—juga akan digratiskan. Pada tahun 2022, distrik ini menjadi yang pertama di antara 23 distrik khusus yang sepenuhnya menghapus biaya untuk sekolah dasar dan menengah negeri. Dalam konferensi pers, wali kota distrik menyatakan, “Kami berharap upaya ini akan memudahkan keluarga dalam membesarkan anak dan mendorong lebih banyak orang untuk mempertimbangkan tinggal di distrik ini.”

Distrik ini bukan satu-satunya yang menanggung biaya studi wisata dengan dana publik.

Mulai tahun fiskal ini, semua 10 sekolah menengah negeri di…

Kyoto

Kyoto, yang pernah menjadi ibu kota Jepang dari tahun 794 hingga 1868, terkenal dengan sejarahnya yang kaya, budaya tradisional, serta kuil, kuil Shinto, dan taman yang terpelihara dengan baik. Sebagai pusat seni, agama, dan politik Jepang selama lebih dari satu milenium, kota ini adalah rumah bagi situs ikonik seperti Kinkaku-ji (Paviliun Emas), Kuil Fushimi Inari, dan Kiyomizu-dera. Saat ini, Kyoto tetap menjadi simbol warisan budaya Jepang, memadukan tradisi kuno dengan kehidupan modern.

Nara

Nara, terletak di wilayah Kansai Jepang, adalah ibu kota permanen pertama negara itu (710–784 M) dan terkenal dengan kuil dan kuil Shinto kuno yang terpelihara dengan baik. Kota ini adalah rumah bagi landmark seperti Todai-ji, yang menampung Patung Buddha Besar (Daibutsu), dan Taman Nara, tempat rusa suci berkeliaran dengan bebas. Sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, Nara mencerminkan seni dan arsitektur Buddha awal Jepang, menunjukkan signifikansi budaya dan sejarahnya yang mendalam.

Nagasaki

Nagasaki adalah kota pelabuhan bersejarah di Pulau Kyushu, Jepang, dikenal karena perannya sebagai pusat perdagangan utama dengan Eropa selama abad ke-16 dan 17. Kota ini menjadi terkenal secara tragis sebagai kota kedua yang dijatuhi bom atom pada 9 Agustus 1945, selama Perang Dunia II, yang mengakibatkan kehancuran luas. Saat ini, Nagasaki adalah simbol perdamaian dan ketahanan, rumah bagi peringatan seperti Taman Perdamaian Nagasaki dan Museum Bom Atom, sambil juga menampilkan perpaduan unik pengaruh Jepang dan asing dalam budaya dan arsitekturnya.