SURABAYA – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya memasuki babak kepemimpinan baru setelah Prof. Dr. Mulyanto Nugroho kembali dipercaya menjabat Rektor untuk periode 2025–2029. Pelantikan yang digelar pada Selasa itu juga menandai formasi baru jajaran pimpinan dengan hadirnya dua wajah segar yang diharapkan membawa kampus “Merah Putih” ke pencapaian yang lebih gemilang.
Kedua sosok baru tersebut adalah Supangat, M.Kom., ITIL., COBIT., CLA, yang dipercaya sebagai Wakil Rektor II, dan Sumiati, MM, yang menjabat Wakil Rektor III. Keduanya dikenal memiliki rekam jejak akademik solid dengan puluhan karya penelitian yang telah dipublikasikan.
Supangat yang mendalami teknologi digital telah menghasilkan lebih dari 20 karya penelitian, sementara Sumiati jauh lebih produktif dengan 90 kajian yang dikenal luas. Salah satu karyanya yang paling fenomenal adalah penelitian berjudul “Pengaruh Kualitas Produk dan Harga terhadap Keputusan Pembelian Produk Kosmetik Wardah di Kota Bangkalan,” yang terbit pada 2016 dan telah direview ratusan akademisi hingga kini.
Sementara itu, Prof. Mulyanto, atau yang akrab disapa Prof. Nug, ini memasuki masa jabatan ketiganya sebagai rektor. Ia akan dibantu oleh Harjo Seputro, ST, MT (Wakil Rektor I), Supangat (Wakil Rektor II), dan Sumiati (Wakil Rektor III). Formasi ini diharapkan dapat mempercepat visi besar Untag untuk meningkatkan kualitas pendidikan setara standar internasional sekaligus memperkuat identitas kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan.
Dalam sambutannya, Prof. Mulyanto menekankan bahwa tantangan pendidikan tinggi ke depan semakin kompleks, sehingga Untag Surabaya harus berani melangkah lebih jauh.
“Sejak 2018, kami telah membuka empat program studi internasional. Pada 2021, tiga di antaranya berhasil meraih akreditasi internasional. Tahun ini, kami menargetkan empat program tambahan, sehingga total menjadi tujuh program berstandar internasional,” ujarnya.
Selain internasionalisasi, Prof. Mulyanto menekankan pentingnya penerapan Empat Pilar Pendidikan Tinggi. Salah satunya melalui pendidikan kebangsaan wajib dari jenjang sarjana hingga doktoral.
“Kampus Merah Putih punya tanggung jawab menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Hal ini sejalan dengan program Kampung Pancasila yang digagas Pemerintah Kota Surabaya,” tambahnya.
Untag Surabaya juga terus memperluas akses pendidikan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah. Tahun lalu, Pemkot Surabaya memberikan beasiswa penuh kepada 17 mahasiswa program vokasi. Ke depan, skema bantuan pendidikan ini akan diperluas agar lebih banyak pemuda Surabaya yang mendapat kesempatan mengenyam pendidikan tinggi.
Kepemimpinan Prof. Mulyanto terbukti mampu menjaga soliditas kampus. Tantangan besar perguruan tinggi swasta adalah bersaing dengan perguruan tinggi negeri berstatus badan hukum yang banyak diminat lulusan SMA, serta masuknya kampus asing ke Indonesia.
“Di Surabaya saja, sudah ada dua perguruan tinggi dari Australia. Orang tua dengan kemampuan ekonomi tinggi tentu akan mempertimbangkan gelar asing. Karena itu, Untag harus memperkuat daya tarik sendiri melalui kualitas dan kekompakan internal,” tegasnya.
Apresiasi juga datang dari Wali Kota Surabaya yang memuji dedikasi Prof. Mulyanto dalam membawa perubahan signifikan sejak periode pertamanya. “Periode pertama dan kedua telah membawa lompatan besar bagi Untag Surabaya. Pada periode ketiga ini, saya harap kolaborasi dengan Pemkot dapat diperkuat lagi, termasuk melalui program kuliah kerja nyata mahasiswa untuk membantu masyarakat di Kampung Pancasila,” ujarnya.
Pemerintah Kota Surabaya juga menyiapkan program beasiswa Pemuda Tangguh yang ditujukan bagi mahasiswa di perguruan tinggi swasta, termasuk Untag. Dengan skema ini, diharapkan tidak ada lagi pemuda Surabaya yang terhambat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya. “Kami ingin memastikan anak-anak Surabaya tetap bisa kuliah, agar Indeks Pembangunan Manusia kota ini terus meningkat,” tambahnya.
Dengan kombinasi kepemimpinan berpengalaman dan hadirnya dua sosok akademisi baru, Untag Surabaya optimis mampu menghadapi tantangan global sekaligus tetap teguh pada identitasnya sebagai kampus perjuangan.