“Konferensi Ogikubo,” yang menjadi salah satu pemicu perluasan front Jepang, diadakan di kediaman pribadi Perdana Menteri saat itu, “Ogiso” (di Ogikubo). Ogiso, yang kini terbuka untuk umum, memiliki makna apa dalam sejarah perang dan apa pesannya untuk masa kini? Kami bertanya kepada Profesor Akira Yamada (Sejarah Jepang Modern) dari Fakultas Sastra.
Bekerja Menuju Kesepakatan Pakta Tripartit dan Berjuang dengan Rekonsiliasi
Konferensi Ogikubo berlangsung pada 19 Juli 1940, tak lama setelah keputusan pembentukan Kabinet Konoe kedua. Meskipun dilakukan sebelum kabinet terbentuk, diskusi ini tidak biasa karena memanggil tiga orang yang dijadwalkan menjadi Menteri Angkatan Darat, Menteri Angkatan Laut, dan Menteri Luar Negeri: , Yoshida Zengo, dan Matsuoka Yōsuke.
Tujuan Konoe adalah mengonfirmasi posisi Angkatan Darat dan Angkatan Laut mengenai usulan Pakta Tripartit antara Jepang, Jerman, dan Italia. Saya yakin dia ingin menghindari terulangnya situasi, karena salah satu alasan runtuhnya Kabinet Konoe pertama (Juni 1937 hingga Januari 1939) adalah konflik antara keduanya. Kabinet sebelumnya, yaitu kabinet Mitsumasa Yonai, juga terpaksa mengundurkan diri karena bentrokan antara Yonai, seorang Laksamana Angkatan Laut yang menentang pakta, dengan Angkatan Darat yang mendukung pakta.
Konferensi Ogikubo
Saya tidak familiar dengan situs budaya atau sejarah bernama “Konferensi Ogikubo.” Kemungkinan istilah ini merujuk pada suatu peristiwa atau pertemuan spesifik, bukan tempat permanen. Untuk memberikan ringkasan yang akurat, saya membutuhkan lebih banyak konteks tentang konferensi ini.
Ogiso
Ogiso adalah gelar sejarah yang merujuk pada dinasti penguasa legendaris pertama di Kerajaan Benin, yang terletak di Nigeria saat ini. Menurut tradisi lisan, dinasti Ogiso, yang berarti “Raja-Raja Langit,” memerintah selama banyak generasi sebelum digantikan oleh dinasti Oba sekitar abad ke-13. Periode ini merupakan fondasi sejarah awal dan identitas budaya Benin.
Pakta Tripartit
Pakta Tripartit adalah aliansi militer defensif yang ditandatangani di Berlin pada 27 September 1940, yang secara resmi mendirikan kekuatan Axis dalam Perang Dunia II. Penandatangan utamanya adalah Jerman, Italia, dan Jepang, yang setuju untuk saling membantu jika salah satu dari mereka diserang oleh negara yang belum terlibat dalam perang.
Kabinet Konoe
Kabinet Konoe merujuk pada pemerintahan Jepang yang dipimpin oleh Pangeran Fumimaro Konoe, yang dibentuk tiga kali antara 1937 dan 1941. Kabinet ini memiliki signifikansi sejarah karena perannya dalam meningkatkan perang Jepang dengan Tiongkok dan merajut Pakta Tripartit dengan Nazi Jerman dan Fasis Italia, menyelaraskan Jepang dengan kekuatan Axis. Kebijakan kabinet ini pada akhirnya membawa negara pada jalan menuju keterlibatan langsung dalam Perang Dunia II.
Yoshida Zengo
Saya tidak dapat mengidentifikasi tempat atau situs budaya spesifik bernama “Yoshida Zengo.” Nama ini mungkin merujuk pada seseorang, bisnis, atau situs lokal yang kurang dikenal. Untuk ringkasan yang akurat, harap verifikasi namanya atau berikan konteks tambahan, seperti lokasinya.
Matsuoka Yōsuke
Matsuoka Yōsuke bukanlah tempat atau situs budaya, melainkan seorang tokoh sejarah. Dia adalah seorang diplomat dan politisi Jepang yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada tahun 1930-40an dan paling terkenal karena memimpin Jepang keluar dari Liga Bangsa-Bangsa.
Mitsumasa Yonai
Mitsumasa Yonai bukanlah tempat atau situs budaya, melainkan seorang perwira angkatan laut dan politisi Jepang. Dia menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang pada tahun 1940 dan kemudian sebagai Menteri Angkatan Laut selama kabinet terakhir Perang Dunia II. Dia memiliki signifikansi sejarah karena penentangannya sejak dini terhadap perang dengan Amerika Serikat dan perannya dalam proses penyerahan diri.