SURABAYA – Pemerintah resmi mulai menertibkan praktik parkir ilegal di sejumlah kawasan strategis kota. Salah satu fokus utamanya adalah kawasan ikonik Tunjungan, di mana parkir di badan jalan (TJU) tidak lagi diizinkan.

Kebijakan ini bertujuan mengembalikan fungsi jalan, mengurangi kemacetan, serta meningkatkan kenyamanan pejalan kaki dan wisatawan yang menikmati suasana heritage “Kota Pahlawan”.

“Tarif resmi untuk kendaraan roda dua adalah Rp2.000 dan Rp5.000 untuk roda empat. Jika ada juru parkir yang meminta lebih, itu adalah tarif ilegal dan dapat langsung dilaporkan kepada kami, baik melalui media sosial maupun petugas di lapangan,” tegas Plt. Kepala Dinas Perhubungan Surabaya.

Sebagai bagian dari program revitalisasi Jalan Tunjungan, pemerintah kota telah melarang parkir di badan jalan (TJU) di kawasan ini. Satuan Lalu Lintas Polrestabes Surabaya mendukung langkah ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan, ketertiban, dan kelancaran arus lalu lintas.

“Kami sepenuhnya mendukung langkah pemerintah kota dalam menertibkan Jalan Tunjungan. Hal ini penting untuk memaksimalkan fungsi jalan dan meningkatkan kenyamanan pengguna jalan,” ujar Kepala Satuan Lalu Lintas Polrestabes Surabaya.

Pada hari pertama penerapan larangan, Dinas Perhubungan dan kepolisian bergerak cepat. Empat orang yang diduga juru parkir liar diamankan karena tidak memiliki atribut resmi dan memungut tarif di atas ketentuan yang berlaku.

Kini mereka menghadapi proses hukum atas pelanggaran ringan. Dinas Perhubungan menegaskan bahwa patroli gabungan dengan Satpol PP akan terus dilakukan untuk mencegah praktik serupa.

“Kami telah menerjunkan petugas Dinas Perhubungan dan Satpol PP di sepanjang Jalan Tunjungan, dari awal hingga akhir zona parkir resmi,” kata Plt. Kepala Dinas Perhubungan.

Solusi parkir resmi: Area yang ditentukan di sekitar Tunjungan

Untuk memudahkan pengunjung, pemerintah kota telah menyediakan sejumlah zona parkir resmi di dekat Tunjungan, meliputi: Gedung Siola, Tunjungan Elektronik Centre (TEC), Jalan Tanjung Anom, Jalan Genteng Besar, halaman Kantor BPN, halaman tengah Tunjungan (Excelso), dan halaman Pasar Tunjungan.

Masyarakat diimbau untuk menggunakan area resmi ini guna menghindari tarif ilegal dan mendukung ketertiban kota.

Wali Kota Surabaya menegaskan bahwa kebijakan ini tidak hanya bertujuan menertibkan, tetapi juga mendorong pariwisata dan usaha lokal.

“Jika parkir di badan jalan terus dibiarkan, kepadatan kendaraan akan meningkat dan mengganggu pengunjung. Penataan ini justru akan meningkatkan pariwisata dan pendapatan usaha, terutama dengan adanya pertunjukan seni rutin di Jalan Tunjungan,” jelas Wali Kota.

Dinas Perhubungan mengingatkan masyarakat untuk aktif mengawasi juru parkir ilegal. Pelanggaran dapat dilaporkan melalui media sosial resmi pemerintah atau langsung kepada petugas.

“Kami membutuhkan dukungan warga. Jika menemukan juru parkir yang meminta tarif tambahan, segera laporkan. Ini demi kebaikan kita bersama,” tutup Plt. Kepala Dinas Perhubungan.

Jalan Tunjungan

Jalan Tunjungan, yang terletak di Surabaya (Indonesia), adalah salah satu jalan tertua dan paling ikonik di kota ini, terkenal dengan perpaduan monumen bersejarah dan pusat perbelanjaan modern. Secara historis, jalan ini menjadi poros perdagangan dan hiburan pada era kolonial Belanda, dengan bangunan art deco seperti Tunjungan Plaza yang bersejarah. Kini, jalan ini tetap menjadi kawasan yang dinamis, memadukan warisan budaya dengan perdagangan dan bisnis kontemporer.

Gedung Siola

Gedung Siola adalah sebuah bangunan bersejarah yang ikonik yang terletak di Barcelona, Spanyol, dikenal karena arsitektur modernisnya. Dibangun pada tahun 1916 oleh arsitek Josep Puig i Cadafalch, awalnya menampung toko serba ada Siola dan kemudian berubah menjadi pusat budaya. Saat ini merupakan bagian dari Museum Seni Kontemporer Barcelona (MACBA) dan menjadi contoh menonjol dari desain Katalan awal abad ke-20.

Tunjungan Elektronik Centre (TEC)

Tunjungan Elektronik Centre (TEC) adalah pusat perbelanjaan elektronik terkenal di Surabaya, Indonesia. Berdiri sejak tahun 90-an, tempat ini menjadi acuan untuk membeli dan memperbaiki perangkat elektronik. Meskipun menghadapi persaingan dari toko modern dan perdagangan daring, TEC tetap menjadi destinasi populer bagi para penggemar teknologi.

Jalan Tanjung Anom

Jalan Tanjung Anom, yang terletak di Jakarta (Indonesia), adalah jalan bersejarah yang dikenal dengan arsitektur kolonial dan relevansi budayanya. Berasal dari zaman Belanda dan merupakan bagian dari Batavia (sekarang Jakarta), kawasan ini dulunya merupakan kawasan pemukiman dan perdagangan penting. Kini, jalan ini masih mempertahankan sebagian pesona historisnya, berpadu dengan kehidupan kota modern.

Jalan Genteng Besar

Jalan Genteng Besar, di Surabaya, adalah kawasan bersejarah yang dikenal dengan pecinan dan nilai budayanya. Berakar dari era kolonial, jalan ini diapit oleh toko-toko tradisional Tionghoa, klenteng, dan arsitektur kolonial yang mencerminkan warisan multikultural kota. Kawasan ini tetap menjadi pusat perdagangan dan budaya yang ramai.

Halaman Kantor BPN

Halaman Kantor BPN (Badan Pertanahan Nasional) adalah fasilitas pemerintahan di Indonesia yang mengelola administrasi pertanahan dan urusan agraria. Didirikan untuk mengawasi pendaftaran, kepemilikan, dan implementasi kebijakan, lembaga ini memainkan peran kunci dalam reforma agraria di negara ini. Halaman tersebut berfungsi sebagai ruang fungsional untuk kegiatan resmi dan layanan publik terkait dokumentasi pertanahan.

Halaman Tengah Tunjungan (Excelso)

Halaman Tengah Tunjungan (Excelso) adalah kafe dan tempat nongkrong populer di Surabaya, yang terletak di dalam pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza. Dikenal dengan merek kopi Excelso, tempat ini telah menjadi favorit sejak tahun 90-an, memadukan budaya kopi modern dengan gaya hidup perkotaan kota. Area ini mencerminkan pertumbuhan komersial Surabaya, menawarkan suasana yang nyaman di tengah distrik bisnis.

Halaman Pasar Tunjungan

Halaman Pasar Tunjungan, di Surabaya, adalah kawasan komersial bersejarah yang berasal dari era kolonial Belanda. Awalnya merupakan pusat perdagangan, tempat ini berubah menjadi pasar tekstil dan produk lokal yang ramai. Hingga kini, tempat ini mempertahankan atmosfernya yang dinamis, memadukan tradisi dengan pembangunan perkotaan modern.