Ceramah

Wajah Yang Ilahi

Muncul sebuah pertanyaan: jika orang asing menatap kita dengan dengki, bagaimana kita bisa mengingat wajah ceria mereka, jika kita tidak mengenalnya? Di saat seperti itu, ingatlah wajah orang tercinta atau yang kau hormati.

Jika karena suatu alasan kau tidak berhasil membayangkan wajah ceria orang itu, kau bisa mengingat wajah dewa atau dewimu. Terhubung dengan energinya akan membantumu mengatasi situasi tersebut.

Jangan menjadi bubuk mesiu

Kita memiliki empat musuh batin: kemarahan, ego, tipu daya, dan keserakahan. Ini juga disebut Kashaya (nafsu). Kashaya berarti “mengikat”, yang membelenggu jiwa. Empat Kashaya ini terus bekerja dalam diri kita dan mengarah pada karma. Mari kita renungkan bagaimana hal itu terjadi. Pernahkah kau memikirkan bagaimana kemarahan, keserakahan, atau Kashaya lainnya menguasaimu?

Sama seperti seorang pengemudi tidak bisa pergi ke mana pun tanpa kendaraan, Kashaya tidak bisa bertindak sendiri. Mereka membutuhkan sarana untuk mengekspresikan diri. Contohnya, mari kita bicara tentang kemarahan. Saat kau marah pada seseorang, apakah kau mengutuknya dalam pikiranmu? Apakah kau menghinanya secara lisan?

Atau, dalam kasus ekstrem, apakah kau bahkan menggunakan tanganmu untuk memukulnya? Juga sering terjadi, jika kau tidak bisa menyakiti orang itu, apakah kau melampiaskan kemarahanmu pada benda? Banyak orang melampiaskan kemarahannya pada benda mati seperti kursi atau peralatan. Dengan demikian, saat badai Kashaya berkecamuk dalam pikiran, ucapan, dan tubuh.

Hidup yang dikendalikan oleh Yoga: Jalan sederhana untuk mengatasi Kashaya

Ini berarti kemarahan membutuhkan kendaraan: pikiran, ucapan, dan tubuh. Kecenderungan pikiran, ucapan, dan tubuh disebut Yoga. Jika “kendaraan Yoga”-mu memiliki kebiasaan baik (pikiran positif, kata-kata yang mendukung, perilaku penuh cinta dan persahabatan), hasil dari Yoga itu akan menjadi Leshya yang berbudi luhur (murni, bercahaya, terang).

Kebenaran fundamental Leshya adalah bahwa ia adalah hasil dari Yoga, yang didorong oleh disiplin. Di mana ada Yoga, di situ ada Leshya.
Jika melalui latihan kau berhasil menjaga pikiran, ucapan, dan tubuhmu tetap tenang dan seimbang, kau akan selamat dari gempa Kashaya. Sama seperti bangunan dengan fondasi kuat yang tahan terhadap gempa, fondasi hidupmu adalah Yoga.

Jika kecenderungan yogic-mu moderat, gempa Kashaya tidak akan bisa menjatuhkanmu. Oleh karena itu, tidak perlu mengendalikan Kashaya secara langsung. Sebaliknya, disiplinkan Yoga-mu. Beberapa praktik Yoga sederhana termasuk berbicara dengan lembut, berjalan dengan hati-hati, dan memegang benda dengan penuh perhatian. Melakukannya secara alami akan menenangkan Kashaya.

Jadi, praktikkan Yoga secara terus-menerus. Jaga pikiran, ucapan, dan tubuhmu tetap tenang, dan kembangkan sikap moderat dalam kecenderungannya. Pertahankan Leshya yang berbudi luhur.
Leshya adalah kecenderungan Yoga yang diwarnai oleh munculnya Kashaya. Seperti yang dikatakan kitab suci:

‘Yoga pravritti leshya kashayodaya anuranjita bhavati.’

Gommatasara Jivakanda, Sutra 460

Leshya adalah kecenderungan pikiran, ucapan, dan tubuh yang diwarnai oleh Kashaya. Artinya, kecenderungan pikiran, ucapan, dan tubuh yang dipengaruhi oleh nafsu adalah Leshya.

Leshya beroperasi melalui kombinasi Kashaya dan Yoga. Leshya berakar pada Yoga tetapi didominasi oleh Kashaya. Jika kita mengamati hidup kita, intensitas Kashaya bisa berfluktuasi, tetapi kecenderungan pikiran, ucapan, dan tubuh berlangsung terus-menerus. Oleh karena itu, gejolak Kashaya-lah yang menarik perhatian kita.

Baca juga: