PT PLN (Persero) Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Tengah (UIT JBT) melalui Unit Pelaksana Transmisi (UPT) Bekasi telah berhasil menyelesaikan pemeliharaan rutin dua tahunan pada peralatan BAY 7A2 DIA#2 500 kV di Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) Muara Tawar dengan lancar, aman, dan tanpa gangguan pada sistem tenaga listrik.
Keberhasilan ini merupakan langkah penting dalam menjaga keandalan sistem transmisi sebagai tulang punggung distribusi listrik di interkoneksi Jawa-Bali, sekaligus memastikan pasokan listrik yang stabil bagi masyarakat dan sektor industri.
Seluruh rangkaian pekerjaan dilakukan secara komprehensif, mulai dari inspeksi detail, pengujian sistem proteksi, pemeriksaan isolasi, hingga evaluasi kinerja peralatan. Kegiatan ini juga dilaksanakan dengan mengutamakan prinsip zero accident dan standar keselamatan kerja yang ketat.
Disampaikan bahwa keberhasilan ini menunjukkan kesiapan operasional tim dalam menjaga keandalan sistem transmisi.
“Pekerjaan pemeliharaan berjalan sesuai rencana dan selesai tanpa kendala. Hal ini mencerminkan kesiapan tim lapangan kami dalam memastikan semua peralatan dalam kondisi optimal, sehingga sistem distribusi listrik tetap andal dan aman,” demikian pernyataan yang disampaikan.
Ditegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan bagian dari komitmen untuk menyediakan sistem kelistrikan yang tangguh dan berkelanjutan.
“Keberhasilan ini adalah bukti nyata kesiapan dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional. Kami tidak hanya memastikan lampu tetap menyala, tetapi juga memastikan sistemnya kuat, stabil, dan siap mendukung pertumbuhan ekonomi. Kami akan terus bergerak secara proaktif melalui pemeliharaan terencana dan penguatan infrastruktur untuk memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” tegasnya.
GITET Muara Tawar adalah salah satu simpul vital dalam sistem transmisi tegangan ekstra tinggi di Jawa-Bali.
Dengan selesainya pemeliharaan ini, dipastikan infrastruktur strategis ini terus beroperasi secara optimal dalam mendukung permintaan listrik yang terus meningkat.
Ke depannya, UPT Bekasi akan terus memperkuat keandalan sistem melalui program pemeliharaan berkelanjutan untuk menjaga kualitas pasokan listrik nasional.

Di balik kelembutannya, perempuan memiliki kekuatan besar untuk tumbuh dan memberdayakan lingkungan sekitarnya. Ungkapan itu sangat tepat untuk menggambarkan sosok Sri Malasarin, seorang petugas pemasaran mikro atau biasa disebut Mantri BRI yang bertugas di Mujur, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Bagi perempuan ini, perannya bukan sekadar pekerjaan. Lebih dari itu, ia telah menjadi bagian dari roda penggerak ekonomi masyarakat desa. Ketekunan dan kegigihannya selama bertahun-tahun telah membantu banyak pelaku usaha mikro, terutama petani, untuk mendapatkan akses pembiayaan dan pendampingan dalam mengembangkan usaha mereka.
Ia menceritakan awal mula perjalanan kariernya hingga menjadi Mantri BRI seperti sekarang. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di bidang Agribisnis Pertanian, ia pernah bekerja di sektor keuangan sebelum akhirnya bergabung sebagai frontliner di BRI pada tahun 2012.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2014, ia mengikuti rekrutmen internal di bidang pemasaran dan berhasil terpilih sebagai Mantri BRI. Peran baru ini membuka banyak pengalaman baru sekaligus tantangan dalam melayani masyarakat secara langsung.
Sebagai seorang Mantri BRI, ia menyadari bahwa kunci utama dalam menjalankan tugasnya adalah membangun hubungan baik dengan nasabah. Setiap hari ia berhadapan dengan berbagai karakter orang yang berbeda.
“Pendekatan kepada nasabah adalah hal yang utama, karena kita bertemu dengan orang-orang yang berbeda karakternya. Ada yang mungkin lembut, atau memiliki karakter keras, kita harus bisa menghadapinya dengan pendekatan yang baik. Kemudian mungkin juga ada orang yang belum paham, jadi kita harus mendidik mereka secara perlahan,” jelasnya.
Saat ini, ia mendampingi nasabah di sekitar tiga desa di wilayah Mujur, Praya Timur. Mayoritas nasabah tersebut adalah petani yang membutuhkan dukungan modal untuk menjalankan usaha pertanian mereka.
Melalui perannya, ia membantu mereka mendapatkan akses pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan usaha mereka. Tidak hanya memberikan pinjaman, ia juga memberikan bimbingan agar pengelolaan keuangan mereka tetap sehat.
“Kita harus membimbing sesuai dengan kebutuhan nasabah. Di sini umumnya untuk pupuk