Korban adalah seorang pria berusia 40-an tahun dari area Subprefektur Umum Okhotsk.
Menurut polisi, pada 21 Agustus, pria tersebut menerima panggilan di ponselnya dari seseorang yang mengaku sebagai penagih utang menggunakan nomor telepon internasional.
Dia diberitahu bahwa ada biaya pendaftaran situs web yang belum dibayar dan jika tidak melunasi sebelum hari itu berakhir, dia akan menghadapi gugatan hukum. Kemudian, dia diperintahkan untuk membeli uang elektronik senilai ¥300.000.
Pria itu mengikuti instruksi dan, sambil menjaga panggilan tetap tersambung, memasuki sebuah toko swalayan. Dia membeli uang elektronik senilai ¥100.000 sebanyak tiga kali dan memberikan kodenya kepada si penelepon.
Kemudian, saat diminta membayar biaya lain yang juga diklaim belum lunas, dia menjadi curiga dan berkonsultasi dengan polisi, sehingga penipuan ini terungkap.
Polisi memperingatkan masyarakat: “Jangan menuruti permintaan pembayaran yang tidak dikenal atau tidak terverifikasi. Silakan hubungi hotline polisi di #9110.”
Kantor Polisi Bihoro
Kantor Polisi Bihoro adalah fasilitas penegak hukum modern yang terletak di kota Bihoro, Hokkaido, Jepang. Meskipun kantor ini sendiri tidak memiliki sejarah panjang yang terkenal sebagai situs budaya, kantor ini melayani masyarakat setempat dan berada di wilayah yang dikenal dengan keindahan alamnya, termasuk Taman Nasional Shiretoko di dekatnya, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO.
Hokkaido
Hokkaido adalah pulau terbesar kedua dan paling utara di Jepang, secara historis dihuni oleh suku Ainu sebelum pemukiman besar-besaran orang Jepang dimulai pada akhir abad ke-19. Pulau ini terkenal dengan wilayah liar yang luas, taman nasional, dan resor ski kelas dunia, menawarkan budaya dan kuliner yang berbeda dari bagian Jepang lainnya.
Subprefektur Umum Okhotsk
Subprefektur Umum Okhotsk adalah kantor administrasi pemerintah lokal dan militer yang didirikan oleh Keshogunan Tokugawa pada tahun 1855 di Hakodate, Hokkaido. Kantor ini dibuat untuk memperkuat pertahanan pesisir utara Jepang dan menegaskan kendali atas wilayah tersebut di tengah meningkatnya minat asing, khususnya dari Rusia. Situs ini, yang mencakup bangunan pemerintah yang direkonstruksi, kini berfungsi sebagai museum yang menampilkan periode sejarah Hokkaido ini.